Mengenal Kultur Artemia sebagai Pakan Alami Pembenihan Udang

Kultur artemia / Youtube

Artemia merupakan salah satu pakan alami yang sering digunakan di tempat pembenihan udang (hatchery) atau budidaya udang. Artemia merupakan organisme sejenis udang – udangan renik yang dikenal dalam bahasa inggris yaitu brine shrimp. Artemia hidup secara planktonik di perairan yang mengandung garam bersalinitas 15 – 300 per mill dengan suhu berkisar antara 26°C – 31°C dan pH antara 7,3 – 8,4. Organisme ini memiliki keistimewaan hidup yaitu dapat bertoleransi pada perairan dengan kadar garam yang tinggi.

[Baca juga: Mengenal Azolla sebagai Pakan Alternatif Ikan]

Artemia dewasa memiliki ukuran tubuh yaitu mencapai 1 – 2 cm dan berat 10 mg. Telur artemia beratnya 3,6 mikrogram dengan diameter berkisar 300 mikron. Saat menetas, artemia memiliki berat hanya 15 mikrogram dengan panjang 0,4 mm. Artemia akan dewasa pada umur 2 – 3 minggu. Artemia dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 50 – 300 butir setiap 4 – 5 hari sekali. Umur maksimal artemia sekitar 6 bulan.

Artemia/ ScienceSediment

Di perairan alami, artemia hidup dengan pakan alami berupa Diatomae, fitoplankton, dan ragi laut. Artemia merupakan organisme filter feeder (memakan makanan dengan menyaring makanannya yang tersuspensi di air). Ukuran pakan yang mampu ditelan artemia yaitu sekitar lebih kecil dari 60 mikron. Pada usaha produksi artemia selain memberikan pakan alami, dapat juga memberikan pakan buatan berupa dedak halus. Dedak yang dihaluskan kemudian disaring dan dilarutkan dalam air garam sebanyak 150 gram per liter air. Larutan kemudian diblender dan disaring dengan kain saringan halus ukuran 50 – 60 mikron, kemudian diambil ekstraknya dan dimasukkan ke dalam kolam pengembang biakan artemia.

Produksi Artemia

Usaha produksi artemia sudah banyak dilakukan oleh para pengusaha pembenihan. Telur artemia mudah diperoleh di pasaran, namun harganya cukup mahal. Sehingga banyak pengusaha benih udang menyediakan tempat produksi untuk mengembang biakan artemia sebagai pakan alami larva udang.

Pada produksi artemia harus menyediakan tempat produksi yaitu kolam permanen ataupun fiber glass dengan kapasitas yang bervariasi dan bentuk yang bervariasi pula. Bentuk kolam yang bulat lebih memiliki keuntungan dalam sirkulasi air. Kolam yang memiliki ukuran besar wajib dilengkapi Air Water Lift (AWL) yang berfungsi untuk menimbulkan arus putaran air. Dalam kolam ukuran kecil, aerasi dilakukan dengan memasukkan selang dan batu di dasar kolam. Sedangkan untuk kolam berukuran besar dimasukkan dalam AWL.

Beberapa langkah yang dilakukan dalam kultur artemia.

  1. Menyiapkan media yaitu air laut atau air garam. Salinitas air sekitar 10 – 35 per mill dengan pH 7,5 – 8, 5 dan suhu 25°C – 30°C.
  2. Siste (telur artemia) sebelum ditetaskan, dicuci terlebih dahulu dalam air tawar selama 1 jam. Selanjutnya disaring dengan penyaring ukuran 125 mikron dan disemprot dengan air tawar. Lalu ditiriskan.
  3. Padat penetasan siste dalam media penetasan yaitu 5 – 6 gram per liter air.
  4. Kolam dipasang lampu ukuran 5 atau 60 watt dengan jarak 20 cm dari dinding kolam untuk merangsang penetasan siste.
  5. Air media diaerasi menggunakan aerator atau kompresor.
  6. Siste akan menetas 24 – 36 jam yang kemudian akan menjadi nauplius yang akan menjadi benih artemia.
  7. Benih artemia di tebar di kolam dengan media air laut atau air garam dengan padat penebaran sebanyak 1000 – 3000 ekor per liter.
  8. Pemberian pakan dilakukan rutin dengan pakan buatan ataupun pakan alami.
  9. Pada umur 2 minggu, artemia dapat di panen. Umur ideal artemia yang dapat digunakan untuk pakan alami larva yaitu 18 hari pada saat artemia sudah dewasa.

Menurut beberapa penelitian, artemia dewasa memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dibanding artemia muda. Sehingga cocok sebagai pakan alami larva adalah artemia dewasa. Produksi artemia sangatlah mudah karena organisme ini memiliki toleransi yang tinggi sehingga tingkat kelulus hidupannya pun juga tinggi.