Mengenal Tanaman Kopi dan Penggunaan “Bokashi” sebagai Pupuk Organik

Tanaman kopi (Coffea arabica L) merupakan tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Ada dua jenis kopi yaitu arabika (Coffea arabica) dan robusta (Coffea canephora var. robusta). Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, kopi jenis robusta diusahakan pada lahan perkebunan seluas 958.782 ha dengan produksi mencapai 741 kg/ha sedangkan kopi jenis arabika yang banyak diusahakan di dataran tinggi hanya ditanam pada lahan seluas 251.583 ha dengan produksi sekitar 959 kg/ha.

Coffee plantation / Pixabay

Sedikit banyak produksi kopi juga ditentukan oleh kegiatan pemeliharaan tanaman saat budidaya. Pada umumnya budidaya tanaman tahunan seperti kopi dibedakan pemeliharaannya saat Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM). TBM dibedakan kembali menjadi TBM I yang berati tanaman berumur satu tahun setelah pindah tanam. Begitu pula dengan TBM 2 dan TBM 3. Dosis pemupukan biasanya mengikuti umur tanaman, kondisi tanah, tanaman serta iklim. Seperti untuk tanaman lainnya, pelaksanaan pemupukan harus tepat waktu, tepat jenis, tepat dosis dan benar cara pemberiannya.

Pada TBM I dan II pada areal datar maupun berteras, aplikasi pemupukan menggunakan metode ring placement, pemberian pupuk biasanya juga mengikuti jarak tanamnya, dan dapat ditempatkan sekitar 30-40 cm dari batang pokoknya. Aplikasi pupuk lewat tanah dibenamkan dengan membuat lubang di kanan dan kiri pohon sedalam 5 cm dan jarak 20 cm dari pohon. Sedangkan pada areal yang telah memiliki gandungan seperti pada TBM III dan diisi bahan organik serta tumbuh feeder root, apikasi pemupukan dilakukan pada gandungan yaitu lubang di antara tanaman kopi untuk mengumpulkan seresah saat sanitasi yang mempunyai fungsi lain sebagai pupuk organik. Seperti yang kita ketahui, pupuk organik ialah tambahan unsur hara untuk tanaman yang berasal dari bahan non kimia yang diperoleh dari daun atau bagian tubuh tumbuhan dapat pula dari pelapukan sisa-sisa hewan. Selain menambah unsur hara, pupuk organik bermanfaat untuk memperbaiki kualitas tanah.

Selain pupuk organik yang bersal dari seresah, salah satu pupuk organik yang efektif digunakan di lapangan adalah bokashi, yaitu pupuk komposer dengan bahan baku limbah kulit kopi. Limbah ini didapatkan setelah proses pengolahan buah kopi menjadi biji kopi. Kulit kopi yang jumlahnya sangat banyak, ternyata dapat bermanfaat sebagai pupuk.

Cara pembuatan bokashi

Siapkan kulit kopi dengan beberapa bahan lain seperti, pupuk kandang, serbuk kayu dengan perbandingan 1:1:1 dan ditambahkan larutan jamur Trychoderma sp. Agensi hayati ini berfungsi sebagai aktivator dalam proses dekomposisi. Setelah itu, disiapkan pula tempat pembuatan seperti lahan yang terbuka atau bak yang terbuat dari semen, serta terpal.

Apabila alat dan bahan sudah lengkap, langkah selanjutnya ialah meletakkan lapisan pertama pupuk dengan kulit kopi, lapisan kedua diberi pupuk kandang dan lapisan ketiga ditambahkan serbuk kayu seluas 1 x 1 meter (menyesuaikan tempat) setebal 10 cm. Setiap lapisan disiram Trychoderma sp. Lapisan diulang hingga ketinggian sekitar 1 meter.

Bokashi ditutup rapat dengan terpal agar terdekomposisi sempurna selama 20 hari, setiap 7 hari tanah dihomogenkan dengan cara dibalik atau diaduk dengan menggunakan cangkul. Pupuk organik yang sudah matang akan tidak berbau, remah, tidak panas dan berwarna gelap.

Pupuk yang sudah jadi, diaplikasikan di lahan perkebunan kopi, dengan cara diletakkan di gandungan, dapat pula diberikan di sekitar perakaran dengan jarang 30-40 cm dari batang pokok.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.