Mengenal Toko Tani Indonesia (TTI)

Toko Tani Indonesia / PASBANA

Kementerian Pertanian RI berhasil mengeluarkan kebijakan dalam upaya stabilitas harga dan ketersediaan pangan mulai tahun 2016 dengan meluncurkan kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM). Kegiatan PUPM di antaranya adalah fasilitas dana bagi usaha distribusi pangan melalui Toko Tani Indonesia yang dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di daerah sentra produksi.

[Baca juga: Fokus Pembangunan Sektor Pertanian Indonesia Tahun 2018]

Toko Tani Indonesia merupakan suatu kegiatan jual beli pangan yang lokasinya difokuskan pada daerah yang seringkali mengalami gejolak harga pangan, dirancang untuk menjual komoditas pangan hasil produksi petani sesuai harga yang wajar kepada konsumen yang dipasok oleh Gapoktan/Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM), dan/atau Perum Bulog.

Toko Tani Indonesia  muncul sebagai terobosan dari solusi tingginya disparitas harga antara produsen atau petani dan konsumen. Disparitas ini mengakibatkan keuntungan tidak proporsional antara pelaku usaha. Harga yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjamin produsen mendapatkan harga yang layak, sehingga diperlukan keseimbangan harga yang saling menguntungkan, baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen. Lebih lengkap, tujuan dari munculnya TTI ini adalah:

  1. Menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok strategis.
  2. Lebih terintegrasinya rantai distribusi pemasaran agar lebih efisien.
  3. Harga konsumen dapat ditransmisikan dengan baik kepada harga petani
  4. Informasi pasar antar wilayah berjalan dengan baik.
  5. Mencegah terjadinya Patron-Client (pemasukan pangan ke pasar suatu wilayah hanya boleh dipasok oleh pelaku usaha tertentu).
  6. Mencegah penyalahgunaan marketpower oleh pelaku usaha tertentu.

Dalam studi rantai pasok, melalui Toko Tani Indonesia ini pemerintah berusaha memotong rantai pasok pangan yang semula 7-8 lembaga pemasaran menjadi hanya 3-4 lembaga pemasaran. Diharapkan dengan berkurangnya lembaga pemasaran terkait dalam rantai pasok, harga pangan dapat turun hingga mencapai 30%. Langkah ini merupakan solusi permanen dan jangka panjang untuk menekan gejolak harga pangan. ‎Pasalnya, semua komoditas pangan yang dijual di TTI berada di bawah harga pasar.

Dalam memaksimalkan tujuannya, Kementerian Pertanian meluncurkan aplikasi e-commerce Toko Tani Indonesia yang melibatkan petani, masyarakat, lembaga keuangan, dan agen transportasi. Layaman e-commerce tersebut juga diluncurkan untuk merespon perkembangan ekonomi digital serta kemudahan berbelanja bagi masyarakat. Dengan aplikasi ini,Toko Tani Indonesia Center (TTIC) sebagai pusat distribusi dapat mengontrol apakah pesanan dari TTI sudah dikirim oleh Gapoktan, lalu apakah TTI sudah membayar ke Gapoktan dan proses pembayaran tersebut bisa dilakukan secara elektronik.

Aplikasi e-commerce Toko Tani Indonesia memiliki manfaat di antaranya  untuk informasi ketersediaan stok di sisi Gapoktan dan Toko Tani Indonesia, kepastian pengiriman serta monitoring proses pengiriman, jaminan kontinuitas pasokan, minimalisasi biaya distribusi, adanya kepastian harga dan stok yang bisa dibeli masyarakat, dan informasi akses lokasi Toko Tani Indonesia terdekat bagi masyarakat. Pada tahun 2018 ini akan dikembangkan 1.000 Toko Tani Indonesia dan 500 Gapoktan. Kementerian Pertanian menegaskan akan tetap fokus melanjutkan dan mengembangkan aplikasi Toko Tani Indonesia agar masyarakat dapat ikut mengakses layanan itu secara online ke depan.