Mengetahui Dampak dan Perkembangan Tanaman Transgenik

Tanaman transgenik tomat / animhosnan.blogspot.com

Tidak terkendalinya pertumbuhan penduduk di dunia memberikan tantangan tersendiri bagaimana upaya untuk mencukupi ketersediaan bahan pangannya. Krisis pangan akan terjadi jika produksi pangan tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Untuk mencegahnya, muncul ide penerapan bioteknologi pada tanaman berupa rekayasa genetika untuk meningkatkan nilai produksi.

[Baca juga: Perlunya Penyimpanan Komoditas Hortikultura]

Rekayasa genetika merupakan upaya manusia yang dengan sengaja mengubah memodifikasi atau menambahkan susunan suatu gen dengan material baru pada suatu organisme untuk mendapatkan turunan sesuai dengan yang diinginkan.

Rekayasa genetika dianggap sebagai solusi untuk mengatasi ancaman kelangkaan pangan dengan ditemukannya teknologi tanaman transgenik atau dikenal juga dengan Genetically Modified Organism (GMO). Tanaman transgenik hasil rekayasa genetika ini biasanya akan memiliki sifat-sifat unggul, seperti produktivitas yang lebih tinggi, tahan terhadap hama, toleran terhadap herbisida, dan mengandung kualitas nutrisi yang lebih baik.

Tanaman transgenik pertama kali dibuat pada tahun 1973 oleh Herbert Boyer dan Stanley Cohen. Pada tahun 1988 telah ada sekitar 23 tanaman transgenik, tahun 1989 terdapat 30 tanaman, dan tahun 1990 sudah lebih dari 40 tanaman. Tanaman transgenik dibuat dengan cara mengambil gen-gen tertentu yang baik pada makhluk hidup lain untuk disisipkan pada tanaman. Penyisipan gen ini dilakukan melalui suatu vektor atau perantara yang biasanya menggunakan bakteri Agrobacterium tumefeciens untuk tanaman dikotil dan partikel gen untuk tanaman monokotil, lalu diinokulasikan pada tanaman target untuk menghasilkan tanaman yang dikehendaki. Pembuatan tanaman transgenik ini dilakukan di laboratorium yang terkontrol.

Proses rekaya genetika / androidandcavemen

Tanaman transgenik yang dihasilkan dari rekayasa genetika diklaim telah mengurangi dampak lingkungan pertanian secara signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 26 negara yang mengadopsi teknologi ini. Teknologi ini juga dinilai turut membantu mengurangi angka kemiskinan petani kecil di negara-negara berkembang karena tanaman transgenik memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen tanpa menambah luas lahan.

Dari tahun 1996 hingga 2015 penerapan tanaman transgenik membuat hasil panen meningkat rata-rata 13,1% untuk jagung dan 15% untuk kapas. Jumlah petani yang menanam kedelai di Amerika Selatan mengalami juga kenaikan rata-rata 9,6%. Penggunaan teknologi ini dinilai mampu mengurangi penggunaan pestisida sebesar 619 juta kilogram.

Namun, perkembangan tanaman transgenik tidak berjalan mulus, terutama di Indonesia. Tanaman transgenik dianggap dapat membahayakan kesehatan manusia dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Dari segi kesehatan, tanaman transgenik disinyalir dapat menyebabkan keracunan bagi manusia. Misalnya, tanaman transgenik tahan hama yang disisipi gen Bt ternyata tidak hanya bersifat racun terhadap serangga tetapi juga pada manusia. Penggunaan gen Bt pada tanaman jagung dan kapas dapat menyebabkan alergi pada manusia.

Selain itu, tanaman rekayasa juga bisa berdampak kurang baik di lingkungan, yakni hilangnya keanekaragaman hayati. Hal tersebut dapat terjadi salah satunya melalui polusi gen. Tanaman transgenik dikhawatirkan dapat mengancam pertumbuhan varietas asli tanaman dengan menyebarkan serbuk sarinya sehingga terjadi persilangan atau pertukaran gen dengan tanaman asli yang mengakibatkan tanaman berubah menjadi tanaman transgenik seluruhnya atau dengan kata lain terjadi penularan sifat ermutasinya pada tanaman non transgenik.

Pemerintah Indonesia pernah punya kegagalan di pengembangan teknologi hibrida padi sehingga belum berani menerapkan secara menyeluruh teknologi rekayasa genetika tersebut. Selain itu, perusahaan benih nasional maupun BUMN juga belum siap bersaing dengan perusahaan benih multinasional. Padahal untuk meningkatkan produktivitas, harus ada terobosan penggunaan teknologi.