Menilik Tidak Stabilnya Produktivitas Kopi di Indonesia

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas andalan negeri. Kopi termasuk tanaman perkebunan yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada berbagai daerah dengan berbagai ketinggian tempat. Untuk daerah dataran rendah sampai menengah dapat diusahakan jenis kopi robusta, sedang pada daerah dataran tinggi dapat digunakan jenis kopi arabika.

[Baca juga: Kopi sebagai Komoditas Ekspor Andalan Indonesia Perlu Ditingkatkan]

Informasi Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi yang dihimpun dari Direktorat Jendral Perkebunan tahun tahun 2014, menyebutkan bahwa ada tren fluktuasi produktivitas kopi di Indonesia pada luasan tertentu. Pada tahun 2011 produktivitas kopi sebanyak 638.646 ton/ha, sedangkan pada tahun 2012 naik menjadi 691.163 ton/ha kemudian mengalami penurunan kembali pada tahun 2013 sebesar 675.881 ton/ha. Data diperoleh merupakan kalkulasi dari produktivitas perkebunan negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat di Indonesia.

Kendala dan Solusi Tidak Stabilnya Produktivitas Kopi

Jumlah dompol yang berbeda, hal ini karena jumlah ruas pada cabang yang pendek akibat PLP (pangkas lepas panen) banyak membuang cabang pada tahun sebelumnya yang tidak sesuai dengan rencana jangka panjang, yaitu harus menyisakan percabangan untuk produksi tahun selanjutnya. Hal tersebut dapat dihindari dengan merumuskan PLP dengan baik dan memperketat pengawasan dalam proses PLP agar target tercapai. Perlunya tenaga yang ahli untuk PLP agar cabang tidak terbuang sia-sia.

Faktor iklim dapat mempengaruhi fisiologis tanaman. Jumlah bulan kering yang lebih banyak daripada bulan basah menyebabkan musim kemarau lebih panjang sehingga evapotranspirasi lebih tinggi. Lengas dapat kehilangan kadar air dan kelembaban akibat intensitas cahaya matahari yang tinggi. Menghambat pertumbuhan akar karena tidak dapat menyerap air dengan optimal. Air dibutuhkan tanaman untuk metabolisme dan membentuk bunga serta buah yang menyebabkan penurunan produksi. Kondisi tanaman kopi yang menurun akibat hama dan penyakit tanaman, penaung (lamtoro) yang diramban oleh masyarakat untuk kebutuhan pakan ternak, kurangnya unsur hara yang tersedia untuk tanaman, umur tanaman yang tidak produktif (20-35 tahun).

Mengatasi tingginya penguapan pada tanah dan tanaman dilakukan penyiraman dengan sumber air terdekat. Penyiraman dapat mengaktifkan primordia dalam keadaan dorman menjadi mekar. Bunga berpotensi menjadi buah 50-70%. Perlu dilakukan pangkas peremajaan atau rejuvinasi. Rejuvinasi dilakukan pada tanaman yang perakarannya kokoh namun produktivitasnya menurun. Tanaman akan menjadi TBM kemudian dilakukan pemeliharaan sehingga menjadi TM siap berbuah.

Pemeliharaan tanaman naungan yang kurang intensif. Tanaman kopi menghendaki intensitas cahaya matahari yang tidak terlalu banyak oleh karena itu digunakan tanaman naungan seperti lamroto. Namun, jenis legum ini disukai ternak sebagai pakan, menyebabkan lamtoro banyak diramban oleh peternak. Untuk mengatasi hal tersebut, perlunya peningkatan pengawasan oleh keamanan agar meminimalisasi jumlah lamtoro yang dibabat. Pakan ternak diganti menjadi tanaman lain selain lamtoro.

Alternatif lain adalah mengganti atau mengkombinasi lamtoro dengan penaung produktif lain seperti Makadamia (Macadamia integrifolia). Syarat penaung tanaman kopi di antaranya memiliki perakaran yang kuat dan dalam, memiliki percabangan yang mudah diatur, ukuran daun relatif kecil dan tidak mudah rontok, umur panjang, menghasilkan bahan organik dan tidak menjadi inang hama dan penyakit kopi. Syarat tersebut sebagian besar telah dipenuhi Makadamia.

Optimalisasi pemupukan memberi peranan penting sebagai pemasok eksternal unsur hara ke tanah. Sebelum musim panen biasanya kebun memberi sampel tanah dan daun pada blok-blok perkebunan untuk dianalisis oleh laboratorium. Rekomendasi pemupukan untuk TBM dan TM sudah dapat diaplikasikan ke lahan. Seharusnya rekomendasi pemupukan dimaksimalkan dengan baik oleh pihak kebun agar tanaman tercukupi kebutuhannya dan berproduksi optimal. Namun kegiatan pemupukan terkendala faktor biaya, sehingga tidak semua lahan mendapat pupuk yang cukup.

Itulah beberapa permasalahan yang dikaji dari segi agronominya. Peningkatan pemeliharaan tanaman diikuti manajemen sumber daya manusia yang baik diharapkan dapat mengatasi tidak stabilnya produktivitas kopi di Indonesia.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.