Meningkatkan Kualitas Warna Ikan Koi dengan Kandungan Karotenoid

Ikan koi merupakan ikan hias yang banyak diminati oleh masyarakat, terutama masyarakat Jepang. Masyarakat Jepang mempercayai bahwa ikan ini dapat memberikan keuntungan atau kebahagiaan bagi pemiliknya. Ikan koi di Jepang merupakan simbol persahabatan atau simbol kasih sayang. Di Indonesia pun, produksi ikan koi tidak kalah besar dengan di Jepang. Bahkan ikan koi yang dihasilkan oleh pembudidaya Indonesia beberapa di ekspor ke negara-negara lain, seperti Jepang salah satunya.

Dalam pemeliharaan ikan koi untuk budidaya ataupun pribadi adalah bagaimana kualitas ikan koi tetap terjaga secara fisik. Kualitas ikan koi sendiri terletak pada warna dari ikan koi tersebut. Semakin cerah warna ikan dan pola warna yang sempurna, ikan koi tersebut akan laku di pasaran dengan harga yang tinggi. Perlombaan-perlombaan yang sering diadakan oleh orang yang hobi ikan ini juga terkait dari kualitas warna dari ikan koi tersebut.

[Baca juga: Ternyata Eceng Gondok Bisa Jadi Pakan Ikan Alternatif]

Penelitian tentang nutrisi dan pakan ikan sudah banyak dipelajari namun sebagian besar informasi tentang kebutuhan pakan ikan tidak spesifik mengarah untuk ikan hias. Ikan hias sendiri memiliki keunikan dengan keanekaragaman warna dan pola warna yang banyak dan keberhasilan dalam perdagangan sangat tergantung pada kecerahan warnanya. Warna adalah salah satu faktor utama, yang menentukan harga ikan hias di pasar dunia. Warna kulit adalah salah satu kriteria kualitas yang paling penting untuk menentukan nilai pasar spesies ikan hias bernilai tinggi seperti ikan mas koi (Cyprinus carpio). Warna kulit ikan terutama disebabkan oleh adanya kromatofora yang mengandung pigmen seperti melanin, pteridin, purin dan karotenoid. Warna yang muncul pada ikan hias ini berasal dari pengendapan karotenoid dalam jaringannya.

Karotenoid adalah sumber utama pigmentasi pada ikan hias tropis, menghasilkan berbagai warna seperti warna kuning, merah dan lainnya. Bahan ini umumnya diperoleh melalui organisme kaya kandungan karotenoid dalam rantai makanan akuatik. Karotenoid hanya disintesis oleh tanaman, fitoplankton (mikroalga), zooplankton dan crustacea, sehingga produktivitas primer di kolam secara langsung mempengaruhi pigmentasi kulit ikan karena adanya ketersediaan pakan alami atau pakan hidup untuk sintesis senyawa ini.

Pakan berkarotenoid dan karotenoid-protein kompleks adalah sumber utama dalam pigmentasi kulit dan otot ikan sehingga untuk meningkatkan warna kulit dan daging dalam budidaya ikan koi, ikan harus memperoleh tingkat karotenoid optimal dalam pakan.

Sumber karotenoid alami yang umum digunakan adalah tepung wortel, sedangkan sumber karotenoid sintetis banyak ditemukan dalam bentuk astaksantin, lucantine red, lucantine pink, carophyl pink, dan lain-lain. Penambahan bahan alami seperti tepung wortel dan bahan sintetis seperti carophyl pink dan campuran keduanya dalam pakan untuk meningkatkan kualitas warna pada ikan mas koi belum banyak diinformasikan.

Pakan dibuat dengan menggunakan bahan baku berupa tepung ikan, tepung kedelai, dedak, terigu, minyak kelapa sawit, minyak ikan, vitamin mix, mineral mix, binder CMC (Carboxy Methyl Cellulose), dan ditambah sumber karotenoid tepung wortel dan carophyl pink sesuai dosis yang ditetapkan yaitu 100 mg/kg karotenoid dalam pakan. Pakan yang dibuat dalam bentuk pellet. Campuran bahan karotenoid alami bersumber dari tepung wortel dan sintetis dari carophyl pink paling ekonomis untuk diaplikasikan dalam pakan ikan mas koi karena tidak berbeda nyata dengan penggunaan bahan baku sintesis saja. Kualitas warna kulit ikan koi yang menggunakan pakan campuran tepung wortel dan carophyl pink rata-rata kuning menuju jingga hingga merah dengan kepekatan dan kecerahan yang semakin tinggi.

 


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fantria Imrantika

Student of Fisheries Resources Management at Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.