Menuju Ketahanan Pangan Melalui Pengembangan Padi Hibrida

Ketahanan pangan di Indonesia merupakan salah satu cita-cita yang belum tercapai hingga saat ini. Berbagai inovasi untuk mewujudkan ketahanan pangan terus dilakukan. Mulai dari penggunaan teknologi dalam proses budidaya hingga menggunakan varietas terbaik untuk meningkat nilai produksi bahan pangan. Salah satu inovasi yang terus dikembangkan untuk menuju ketahanan pangan adalah melalui berbagai varietas dari padi hibrida.

[Baca juga: Varietas Padi yang Tahan Tungro dan Wereng Cokelat]

Hibrida adalah produk persilangan antara dua tetua padi yang berbeda secara genetik. Apabila tetua-tetua diseleksi secara tepat maka hibrida turunannya akan memiliki vigor dan daya hasil yang lebih tinggi daripada kedua tetua tersebut. Varietas hibrida adalah salah satu varietas padi untuk sekali tanam. Keunggulan dari varietas hibrida ini adalah pada potensi hasil yang sangat maksimal. Hibrida memang identik dengan kondisi yang terbaik namun juga memiliki kelemahan.

Kelebihan

Padi hibrida memiliki hasil panen yang jumlahnya lebih tinggi daripada hasil padi unggul inbrida. Selain itu, vigor tanaman lebih baik sehingga lebih kompetitif terhadap gulma. Keunggulan dari aspek fisiologi, aktivitas perakarannya lebih luas, area fotosintesis yang lebih luas, intensitas respirasi yang lebih rendah, dan translokasi asimilat yang lebih tinggi. Keunggulan pada beberapa karakteristik morfologi adalah pada sistem perakaran yang lebih kuat, anakan lebih banyak, jumlah gabah per malai lebih banyak, dan bobot 1000 butir gabah isi yang lebih tinggi.

Kelemahan

Padi hibrida juga memiliki kelemahan, pertama dari segi ekonomi adalah harga benih yang mahal sehingga modalnya pun harus lebih tinggi. Selain itu, petani harus membeli benih baru setiap tanam, karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya. Tidak setiap galur atau varietas yang dapat dijadikan sebagai tetua padi hibrida. Untuk tetua jantannya hanya terbatas pada galur atau varietas yang mempunyai gen Rf atau yang termasuk restorer saja. Cara produksi benih pun juga lebih rumit rumit serta memerlukan areal penanaman dengan syarat tumbuh tertentu.

Pengembangan Padi Hibrida

Berdasarkan sistem produksinya, pengembangan padi hibrida di Indonesia sangat prospektif  mengingat unsur-unsur pengembangannya telah tersedia. Setidaknya ada lima kunci utama untuk pengembangan dan tujuh kriteria areal budidaya agar produktivitas padi hibrida dapat tercapai secara maksimal. Sebagian varietas padi hibrida yang dilepas di Indonesia bereaksi rentan terhadap hama penyakit utama padi. Lima kunci utama untuk mendukung pengembangan padi hibrida yang pertama varietas yang cocok,  kedua benih bermutu, ketiga teknologi budidaya yang tepat, keempat wilayah yang sesuai, dan yang kelima adalah kemampuan petani dalam mengadopsi dan menerapkan teknologi.

Kelima kunci utama di atas tentu tentu juga masih perlu didukung dengan kriteria wilayah  budidaya agar tingkat produktivitas padi hibrida dapat tercapai secara maksimal, yaitu wilayah dengan irigasi terjamin dan drainase baik, kondisi tanah yang subur dengan tekstur ringan sedang,  tidak termasuk wilayah endemis Wereng Batang Coklat (WBC), Hawar Daun Bakteri (HDB), dan Tungro. Selain itu padi hibrida juga lebih baik dibudidayakan di wilayah dengan jadwal tanam serempak serta mudah untuk mendapatkan input produksi  seperti pupuk dan pestisida.

Salah satu dari banyak wilayah yang sudah dijadikan pengembangan padi hibrida adalah desa Tajen, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali terpilih menjadi pusat dilaksanakannya gelar teknologi padi hibrida. Kajian teknologi padi hibrida ini dilakukan dengan pendekatan Small Farmer, Large Field (SMLF) yang prinsipnya adalah petani dengan kepemilikan lahan yang kecil dikelola secara bersama (kelompok tani) dengan varietas yang sama dan sistem budiddaya yang sama sehingga dapat meningkatkan hasil pendapatan petani. Tujuan dari pengembangan ini tidak bermaksud menggeser tatanan masyarakat petani setempat untuk meninggalkan budayanya. Teknologi budidaya dan penggunaan varietas unggul hadir semata-mata untuk meningkatkan produksi padi dan kesejahteraan petani tanpa meninggalkan budaya setempat.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.