Optimalisasi Produksi Kerang Mutiara di Indonesia dengan Cara Budidaya

Budidaya kerang mutiara / DJPB KKP

Kerang mutiara merupakan salah satu biota laut yang hampir semua bagian dari tubuhnya memiliki nilai jual, baik mutiara, cangkang, daging, dan organisme kerang itu sendiri (benih maupun induk). Jenis-jenis kerang mutiara yang ada di Indonesia adalah Pinctada maxima, P. margaritifera, P. chimnitzii, P. fucata dan Pteria penguin. Dari kelima spesies tersebut yang dikenal sebagai penghasil mutiara terpenting yaitu P. maxima, P. margaritifera dan Pteria penguin.

[Baca juga : Rumpon Dilarang, Bagaimana Nasib Nelayan?]

Perairan Indonesia sendiri memiliki potensi kerang mutiara (Pinctada maxima) yang begitu besar di wilayah Indonesia bagian timur seperti Irian Jaya, Sulawesi, dan gugusan laut Arafuru. Di beberapa daerah tersebut, usaha penyelaman kerang mutiara merupakan mata pencaharian bagi penduduk setempat. Gairah para penyelam semakin kuat setelah berdirinya beberapa perusahaan mutiara, karena jalur pemasaran kerang mutiara hasil menyelam cukup baik mengingat perusahaan tersebut masih membeli tiram dari para penyelam.

Mutiara kualitas terbaik dan bernilai tinggi adalah jenis Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) yang diproduksi dari spesies kerang mutiara bibir perak/emas (Pinctada maxima) dan kerang mutiara bibir hitam (Pinctada margaritifera). Kerang mutiara tersebut habitatnya berada bumi bagian selatan khususnya di wilayah Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Karenanya mutiara ini dikenal dengan nama Mutiara Laut Selatan.

Indonesia adalah penghasil mutiara laut selatan (Indonesian South Sea Pearl) terbesar di dunia. Hingga tahun 2014 diperkirakan menembus 5,400 kilogram atau sekitar 50 persen dari total 12,700 kilogram mutiara laut selatan dunia. Daerah penghasil tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Salah satu yang terkenal berasal dari Raja Ampat, Lombok, dan Dobo. Mutiara laut selatan Indonesia memiliki beberapa warna alami yang khas, yaitu putih, krem, perak, merah jambu, dan emas.

Dengan semakin meningkatnya permintaan mutiara di pangsa pasar menyebabkan peningkatan pula penangkapan terhadap kerang mutiara di alam. Hal ini apabila dilakukan secara terus menerus dan berlebihan tanpa adanya keseimbangan antara jumlah tangkapan dan pertumbuhan kerang mutiara akan mengancam keberadaan kerang mutiara di alam sehingga dapat mengakibatkan terjadinya kepunahan. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam optimalisasi kegiatan budidaya kerang mutiara.

Beberapa hal yang dilakukan oleh KKP untuk menorong industri budidaya kerang mutiara pertama, pemetaan zonasi, dimana akan memastikan lokasi-lokasi yang aman untuk budidaya. Kedua, KKP senantiasa meningkatkan kualitas mutiara melalui kegiatan rekayasa genetik untuk menghasilkan benih serta induk yang bermutu yang dilakukan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perikanan Budidaya yang membidangi yaitu di Karangasem, Bali dan Lombok. Ketiga, Pemberdayaan masyarakat, mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian alam, melalui pola segmentasi usaha

Sesuai arahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, DJPB mendorong kegiatan budidaya kerang mutiara yang dilaksanakan harus secara berkelanjutan untuk mendukung kelestarian sumber daya alam. Budidaya kerang mutiara harus terus digalakkan agar masyarakat tidak terus menerus mengambil atau menangkap kerang mutiara dari alam. Sehingga keterlibatan masyarakat pesisir sangat penting dalam kegiatan budidaya kerang mutiara. Selain untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, juga untuk menjamin keberlanjutan usaha.

Keterlibatan masyarakat pesisir dalam kegiatan budidaya kerang mutiara ini dapat didorong dengan pola segmentasi usaha. Masyarakat dapat diberdayakan untuk membudidayakan benih sampai dengan ukuran 7 -10 cm, selanjutnya hasil budidaya masyarakat dapat dijual kepada perusahaan pembesaran kerang mutiara untuk menghasilkan mutiara berkualitas. Segmentasi usaha ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurai eksklusifitas perusahaan budidaya mutiara, mengurangi kesenjangan, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir.