Pemanfaatan Jerami sebagai Sumber Bahan Organik Efektif Padi Sawah

Tumpukan jerami / Pixabay

Pupuk merupakan salah satu bagian penting dalam kegiatan budidaya, terutama padi di sawah. Peran pupuk merupakan faktor utama dalam pertumbuhan dan perkembangan padi untuk memperoleh hasil yang optimal. Namun kebutuhan pupuk yang tinggi sering kali membebani petani karena membuat biaya produksi semakin tinggi. Oleh sebab itu dibutuhkan inovasi untuk mengantisipasi kejadian ini dan mampu mengurangi biaya produksi penggunaan pupuk.

[Baca juga: Pentingnya Pengaturan Jarak Tanam dan Pengairan pada Budidaya Padi]

Salah satu cara untuk mengoptimalkan penggunaan pupuk adalah dengan pemberian bahan organik ke dalam tanah. Adanya bahan organik mampu membuat pemberian input hara lebih efisien dan efektif ke tanaman sehingga pupuk yang digunakan juga dapat lebih efektif dan optimal. Bahan organik mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Salah satu cara untuk menambah bahan organik dan tidak membuat biaya produksi membengkak adalah dengan pemanfaatan jerami sebagai sumber bahan organik tambahan pada tanaman padi.

Jerami merupakan bahan organik potensial yang paling banyak dimiliki oleh petani padi. Pemberian jerami sebagai sumber bahan organik tanah dapat diberikan dalam bentuk brangkasan kering, abu, ataupun kompos jerami. Kompos jerami memiliki kandungan C-organik yang tinggi dan mampu menambah kandungan bahan organik tanah. Pemakaian kompos jerami yang konsisten dalam jangka panjang akan dapat menaikkan kandungan bahan organik tanah dan mengembalikan kesuburan tanah di sawah.

Pemanfaatan Jerami

Jerami sangat melimpah pada saat musim panen. Bila hasil gabah rata-rata 5 t/ha maka dalam 1 hektar diperoleh jerami ± 7,5 ton dengan asumsi nisbah jerami adalah 2 : 3 (Ponnamperuma dalam Tim PTT Balitpa, 2001). Jerami mengandung hara yang lengkap baik berupa hara makro maupun mikro. Secara umum hara N,P,K masing-masing sebesar 0,4 %, 0,2% dan 0,7%, sementara itu kandungan Si dan C cukup tinggi, yaitu 7,9 % dan 40% (Tanaka dalam Tim Balitpa, 2001). Dengan jumlah yang melimpah pada saat panen, maka pengembalian jerami ke dalam tanah merupakan cara yang baik untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Namun pemberian kompos saja pada tanaman padi ternyata tidak mencukupi untuk mencapai hasil panen yang optimal. Hal ini disebabkan hara dalam kompos lebih lambat tersedia dibandingkan hara pada pupuk anorganik, terutama nitrogen. Pemupukan kombinasi kompos jerami dan NPK akan lebih efektif karena penambahan bahan organik meningkatkan penyerapan hara bagi tanaman.

Pemberian kompos jerami 5 ton/ha yang ditambah dengan pupuk N sampai dengan takaran 50 % dari rekomendasi dapat meningkatkan hasil tanaman padi. Hal ini disebabkan serapan nitrogen tanaman padi sawah yang diberi pupuk organik lebih tinggi meskipun nitrogen yang diberikan hanya 50-75 % dari rekomendasi (Iqbal, 2008).

Penggunaan kompos jerami sebanyak 5 ton/ha dapat mengurangi penggunaan pupuk KCl sebanyak 50% dari jumlah kebutuhan pupuk tanpa penggunaan bahan organik. Pemberian 2,5 ton jerami padi/ha dapat mengurangi kebutuhan KCl dari 100 kg/ha menjadi 75 kg/ha dan efektif meningkatkan hasil panen. Selain itu pemberian 10 ton jerami padi mampu meniadakan pemberian pupuk Kalium dan hasil yang diperoleh tidak berbeda nyata dengan pemberian 100 kg KCl/ha, sekaligus efektif mengurangi keracunan besi.