Pemanfaatan Lahan Marjinal untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Salah satu langkah untuk mencapai ketahanan pangan nasional adalah melalui pengembangan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan merupakan sebuah sistem pertanian yang mampu berlanjut untuk saat ini dan masa yang akan datang. Sistem ini dituntut mampu mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berkelanjutan dapat mendukung optimalnya pembangunan pertanian secara berkelanjutan.

[Baca juga: Inovasi Pemanfaatan Lahan Kering untuk Mendukung Ketersediaan Pangan]

Pembangunan pertanian berkelanjutan lebih mentitikberatkan pada keadaan yang akan terjadi pada beberapa tahun kedepan, seperti kekurangan pangan akibat situasi ekonomi politik yang tidak menguntungkan dan ledakan penduduk yang luar biasa. Salah satu permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian berkelanjutan adalah penyusutan lahan. Lahan pertanian terus berkurang sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Pemanfaatan lahan marjinal dan pengotimalan produksi diharapkan bisa membantu menjadi solusi penyusutan lahan yang terus terjadi.

Menurut penelitian Dewi dan Rudianto pada tahun 2013 tentang alih fungsi lahan pertanian dan kondisi sosial ekonomi masyarakat, secara empiris lahan pertanian yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah, lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan, serta pembangunan prasarana dan sarana pemukiman maupun kawasan industri.

Menurut World Bank, pada tahun 2016 jumlah penduduk Indonesia mencapai 261, 1 juta jiwa dengan laju pertumbuhan mencapai 1,1% tiap tahunnya. Setiap penduduk di Indonesia tentu saja memerlukan rumah untuk bernaung dan bercengkerama bersama keluarga. Hal tersebut menyebabkan adanya fenomena konversi lahan pertanian sedangkan mereka tetap membutuhkan pangan sesuai dengan kebutuhan. Perlu adanya upaya khusus untuk meningkatkan hasil pangan disamping pertumbuhan jumlah penduduk yang terus mengancam lahan pertanian.

Potensi Lahan Marjinal

Mengingat banyaknya alih fungsi lahan dan perebutan penggunaan lahan subur untuk kegiatan non pertanian. Maka perlu adanya pergeseran upaya ektensifikasi lahan pertanian dari lahan pertanian subur ke lahan marjinal sebagai bentuk pertanian berkelanjutan. Hal ini dikarenakan jika hanya mengandalkan lahan pertanian subur, produksi pangan tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional yang semakin meningkat.

Lahan marjinal di Indonesia dijumpai baik pada lahan basah maupun lahan kering. Lahan basah berupa lahan gambut, lahan sulfat masam, dan rawa pasang surut yang di Indonenesia sendiri memiliki luas 24 juta hektar, sementara lahan kering berupa tanah ultisol seluas 47,5 juta hektar dan oxisol seluas 18 juta hektar, menurut Suprapto tahun 2002 dalam Tufaila, dkk tahun 2014 dalam bukunya Strategi Pengelolaan Tanah Marjinal Ikhtiar Mewujudkan Pertanian yang Berkelanjutan. Prospek lahan marjinal ini cukup besar untuk pengembangan pertanian, namun sekarang ini belum dikelola dengan baik. Lahan-lahan tersebut kondisi kesuburannya rendah, sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk memperbaiki produktivitasnya.

Selain lahan marjinal basah dan kering, dapat juga dengan pemanfaatan lahan pasir pantai. Intensifikasi pemanfaatan lahan pasir pantai dapat dilakukan dengan penggunaan bahan organik, penggunaan mulsa, penggunaan pematah angin, pemanfaatan sistem lorong , serta hidrologi dan irigasi. Hal ini dikarenakan pada kawasan pesisir dicirikan kecepatan angin yang cepat, maka perlu teknologi pengendali energi angin dan pemanfaatan energi angin. Selain itu, udara di lahan pantai mengandung anasir yang merugikan kehidupan tanaman.

Pemanfaatan lahan marjinal tentu sangat berpotensi dalam menghasilkan bahan pangan untuk mencapai ketahanan pangan nasional. Langkah ini tentu perlu perlu dibarengi dengan langkah pemerintah yang mengatur ekstensifikasi lahan marjinal guna meningkatkan produktivitas pertanian, terutama komoditas pangan dan dukungan alsintan dan wawasan terkait cara intensifikasi lahan marjinal bagi para pelaku budidaya pertanian.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.