Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Peningkatkan Produksi Pangan

Dalam mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat, tantangan yang dihadapi pada masa yang akan datang tidak hanya terbatas pada upaya peningkatan produksi tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan. Tantangan ini bisa dijawab dengan memanfaatkan lahan yang belum dimanfaatkan untuk kegiatan per­tanian produktif. Kondisi lahan ini biasanya terbuka atau telah ditutupi tum­buh-tumbuhan yang tidak produktif seperti alang-alang dan semak belukar.

[Baca juga: Fokus Pembangunan Sektor Pertanian Indonesia Tahun 2018]

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi pertanian adalah terjadinya konversi lahan subur yang cenderung semakin cepat. Sebagai contoh, lahan sawah yang beralih penggunaannya untuk keperluan non pertanian seperti industri, pemukiman, dan jalan diperkirakan mencapai 100.000 hektar per tahun. Padahal wilayah lahan subur tersebut pada umumnya telah tersedia infrastruktur yang memadai sehingga sangat mempengaruhi produksi pertanian.

Untuk mendongkrak laju peningkatan produksi pangan, khususnya untuk semua komoditas strategis, harus diupayakannya pemanfaatan lahan tidur. Lahan tidur merupakan lahan pertanian yang sudah tidak digunakan selama lebih dari dua tahun. Lahan tersebut ditinggalkan setelah ditanam selama beberapa musim untuk kemudian melakukan pembukaan lahan baru.

Pemanfaatan Lahan Tidur

Upaya pemanfaatan lahan tidur sudah mulai dilakukan pemerintah Indonesia. Salah satunya melalui pemanfaatan jenis lahan rawa lebak dan pasang surut. Luas lahan rawa lebak dan pasang surut di Indonesia ini mencapai 10 juta hektare. Dua lahan tidur ini terdapat di lima provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Tingkat produksi pertanian di lahan rawa lebak dan pasang surut cukup produktif, yaitu mencapai 6 ton gabah kering panen tiap hektarnya. Jika pemanfaatan ini dilakukan secara maksimal, Indonesia akan tidak perlu lagi mengimpor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Pemanfaatan lahan tidur yang berupa rawa memang menjadi fokus untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Cara pemanfaatan lahan rawa bisa diolah dengan membuat saluran drainase agar tidak tergenang. Pengolahan tanah bisa dilakukan sedalam kurang lebih 30 cm kemudian digemburkan dan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman. Menentukan penerapan teknologi budi daya yang sesuai juga menjadi bagian penting yang dapat memengaruhi keberhasilan penanaman di lahan rawa.

Selain lahan rawa, yang bisa dimanfaatkan adalah lahan tadah hujan. Lahan ini memang sangat tergantung dengan air hujan untuk kegiatan pertanian, namun jika dibangun embung atau penggunaan pompa dan teknologi lain tentu dapat dimanfaatkan sebagai lahan yang produktif. Indonesia memiliki potensi lahan tadah hujan yang belum dimanfaatkan secara optimal seluas 4 juta hektar dan ini tidak. Tentu ini menjadi peluang yang besar untuk meningkatkan produksi pangan nasional Indonesia.

Lahan yang juga bisa dikatakan sebagai lahan tidur yang perlu untuk dimanfaatkan adalah pekarangan rumah. Lahan pekarangan bisa ditanami dengan tanaman yang berkualitas dan memiliki umur panen yang pendek seperti sayuran sehingga mampu menghasilkan bahan pangan. Dengan sentuhan bisnis, pemanfaatan lahan pekarangan ini juga bisa menambah pendapatan keluarga. Berbagai cara bisa dilakukan, seperti budidaya secara organik, vertikultur, dan tabulampot.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.