Pemanfaatan Senyawa Alelopati Tanaman sebagai Herbisida

Reed / Pixabay

Penggunaan herbisida kimia secara berlebih dan kontinu dapat merusak kesuburan tanah dan merusak lingkungan akibat residu kimia dan produksi pertanian dapat menurun. Saat ini pertanian organik mulai menjadi perhatian masyarakat yang salah satunya dengan menggunakan herbisida organik, yaitu dengan pemanfaatan alelopati pada tanaman.

Alelopati merupakan senyawa biokimia yang dimiliki oleh tanaman yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung ke lingkungan baik tanaman lain maupun mikroorganisme. Senyawa biokimia yang dimaksud adalah senyawa organik yang terkandung dalam alelopati, yaitu senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, terpenoid, alkaloid, steroid, poliasetilena, dan minyak esensial.

[Baca juga: Trik Meningkatkan Kualitas Hasil Pegomposan]

Herbisida yang berasal dari alelopati ini berefek menghambat pertumbuhan atau penurunan hasil gulma. Gulma merupakan tumbuhan pengganggu tanaman budidaya pertanian yang merugikan petani dan hasil pertumbuhan tanaman.

Alelopati memiliki berbagai cara untuk masuk kedalam tanah, yaitu secara eksudasi atau ereksi dari akar melalui proses mengeluarkan air atau senyawa toksik melalui akar. Selain itu dengan cara volatilasi dari daun, yaitu penguapan toksik berupa gas melalui stomata serta secara leaching, yaitu larutnya toksis yang terdapat pada daun akibat air hujan atau embun ke tanah dan seresah yang telah terdekomposisi.

Alelopati dapat dihasilkan oleh gulma, tanaman semusim, tanaman berkayu dan residu tanaman. Gulma umumnya hanya sebagai pengganggu tanaman yang pada proses sanitasi dihilangkan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Namun senyawa alelopati pada beberapa gulma dapat memberikan dampak positif terhadap tanaman budidaya. Contohnya adalah tumbuhan alang-alang. Menurut Djazuli dalam jurnal “Potensi senyawa alelopati sebagai herbisida nabati alternatif pada budidaya lada organik”, alang-alang memberi manfaat pada tanaman jagung karena mampu menekan panjang tunas jagung, selain itu dapat menghambat pertumbuhan gulma lain, namun penggunaannya harus diperhatikan karena dapat berdampak pada tanaman semusim.

Ekstrak tumbuhan Legum cover crop (LCC), seperti Pueraria javanica berpotensi menurunkan perkecambahan dan pertumbuhan serta meningkatkan persentase kematian gulma Borreria alata pada konsentrasi 54% atau ekstrak dari 162 gram daun kering. Hal ini berdasarkan penelitian dari Murtini dkk tentang potensi alelopati ekstrak daun Pueraria javanica.

Jagung merupakan tanaman semusim yang memiliki alelopati untuk menghambat gulma, ekstrak akar jagung dapat digunakan sebagai penghambat gulma dengan cara peningkatan aktivitas enzim katalase dan peroksidase. Sisa tanaman jagung mengandung senyawa fenolat penyebab alelopati.

Tanaman semusim dapat mengeluarkan alelopati yang berdampak pada tanaman semusim lainnya, oleh karena itu dilakukan pergiliran tanaman atau pertanaman ganda untuk mengurangi dampak alelopati.

Selain pada tanaman jagung alelopati juga terdapat pada tanaman berkayu, yaitu akasia. Akasia dimanfaatkan dalam sistem pertanaman wanatani (agroforestry) serta dalam pengendalian gulma, patogen, ataupun hama. Alelopati tanaman akasia ditandai dengan penurunan tinggi tanaman, penurunan panjang akar dan perubahan warna daun pada gulma. Selain akasia tanaman pinus juga dapat memberikan efek alelopati terhadap gulma.

Selanjutnya residu tanaman yang berupa sekam batang dan daun tanaman setelah panen dapat memberikan efek alelopati pada komoditas yang akan ditanam kemudian. Contohnya adalah residu tanaman jagung dapat menekan pertumbuhan gulma dan meningkatkan hasil tanaman padi. Oleh karena itu residu tanaman dan gulma perlu diperhatikan dalam proses pengolahan lahan sebelum penanaman.

Berdasarkan contoh di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa alelopati tidak hanya zat toksik yang dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman sekitarnya tetapi juga dapat memberikan efek positif terhadap pertumbuhan tanaman budidaya. Diharapkan dengan diketahui beberapa contoh dapat menambah wawasan tentang pemanfaatan alelopati dan menemukan senyawa alelopati lain yang lebih bermanfaat untuk budidaya pertanian, sehingga pertanian organik lebih mudah diterima oleh masyarakat.