Pengendalian Hasil Tangkap Sampingan untuk Melindungi Hayati Laut

Perikanan tangkap sangat erat kaitannya akan isu mengenai bycatch. Bycatch merupakan spesies non target yang ikut tertangkap saat proses penangkapan. Contohnya seperti hiu, burung, dan penyu yang terjerat pada long line tuna. Terkadang mamalia laut juga ikut tertangkap oleh purse seine dan driftnets serta alat tangkap pukat yang menangkap berbagai spesies ikan non target. Tangkapan sampingan pada alat tangkap menyebabkan kematian hewan-hewan karismatik seperti penyu, hiu, mamalia laut (paus, lumba-lumba, dsb), hingga burung laut apabila tidak dilakukan pengendalian. Menurut WWF- Indonesia (2012) bahwa Interaksi spesies-spesies tersebut sangat terkait erat dengan aktivitas perikanan tangkap. Sebagian besar dari spesies-spesies tersebut saat ini mengalami penurunan populasi yang drastis karena siklus reproduksi mereka yang lambat. Peran spesies-spesies tersebut dalam rantai makanan ekosistem laut tentu tidak tergantikan dan hilangnya satu spesies berarti ancaman besar bagi ekosistem keseluruhan serta industri perikanan secara khusus. Hal ini bisa berdampak pada rusaknya keanekaragaman hayati laut sehingga harus segera dicari solusinya.

Serangkaian upaya untuk mencegah atau mengurangi tertangkapnya biota yang bukan target utama penangkapan disebut mitigasi bycatch. Upaya pencegahan bycatch sudah dilakukan di Indonesia dengan adanya kebijakan Permen KP No. 2/2015 tentang pelarangan penggunaan alat tangkap pukat hela (Trawl) dan pukat Tarik (Seine Nets) yang termasuk didalamnya alat tangkap cantrang. Alat tangkap tersebut memiliki sifat tidak selektif dalam prinsip penggunaannya sehingga banyak menghasilkan bycatch dan merusak lingkungan. Sayangnya hal ini belum diterima sepenuhnya oleh nelayan yang menggunakan alat tangkap tersebut karena dapat mengakibatkan kelumpuhan terhadap mata pencaharian dengan adanya kebijakan ini sehinga perlu adanya evaluasi kembali terutama dalam penyelesaian konflik yang terjadi antar stakeholder karena pengelolaan akan berjalan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dengan dukungan dan kerja sama antar stakeholder.

Pemahaman akan pentingnya kelestarian lingkungan sangat perlu diberikan kepada nelayan-nelayan Indonesia dalam upaya mengurangi dampak bycatch. Seperti yang dilakukan WWF-Indonesia (2015) untuk mendukung keberlanjutan sektor perikanan yaitu dengan menyusun dan menyosialisasikan panduan mengenai praktek perikanan yang lebih baik dalam serial dokumen BMP (Better Management Practices) perikanan budidaya, perikanan tangkap dan tangkapan sampingan kepada pengusaha dan nelayan di wilayah kerjanya. Panduan ini bertujuan untuk membantu para nelayan dalam menangkap biota secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk proses penanganan dan pengemasannya. Selain itu, WWF juga bekerjasama dengan JARING Nusantara untuk melebarkan jangkauan dalam perbaikan perikanan skala kecil.

Bycatch memang sulit untuk dihindari namun dengan adanya sosialisasi tersebut mindset nelayan berubah terhadap pentingnya menjaga kelestarian hayati laut. Dalam melakukan upaya mengurangi bycatch, nelayan memodifikasi alat tangkap agar lebih selektif atau melepaskan kembali spesies-spesies yang dilindungi. Berdasarkan WWF-Indonesia (2013) salah satu cara mereduksi bycatch yaitu menciptakan modifikasi alat tangkap yang memanfaatkan pola tingkah laku dari spesies tersebut. Salah satu solusi yang dikembangkan untuk mengurangi bycatch penyu adalah dengan memanfaatkan karakter visual penyu, yaitu sensitivitas terhadap cahaya. Penyu sangat sensitif terhadap cahaya dan biasa nya menghindar saat melihat pendar cahaya. Karakter ini dimanfaatkan dengan mengembangkan sejenis lampu yang dapat dikaitkan pada jaring insang. Jaring yang terang oleh lampu dapat menciptakan isyarat visual bagi penyu untuk menghindari jaring tersebut. Dengan demikian mencegah penyu tertangkap pada jaring insang.

Upaya yang dilakukan untuk mengurangi dan mencegah bycatch sangat beragam yaitu dengan memodifikasi alat tangkap, perubahan teknik penangkapan agar lebih selektif dan inovasi- inovasi lainnya. Kebijakan yang telah dibuat pemerintah perlu diawasi pelaksanaannya secara langsung di lapangan untuk menghindari kecurangan yang terjadi sehingga dapat menjadi penghambat dalam upaya perbaikan pengelolaan perikanan secara berkelanjutan.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fantria Imrantika

Student of Fisheries Resources Management at Universitas Gadjah Mada.