Peran Lamun sebagai Blue Carbon

Padang lamun / bluecarbonlab.org

Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan berbunga yang telah memiliki akar, batang, daun sejati, serta telah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terendam di dalam laut. Lamun dapat tumbuh membentuk kawasan yang lebat yang luasnya dapat mencapai ribuan hektar dan dikenal sebagai padang lamun. Di dunia terdapat 60 spesies lamun, 12 diantaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia. Padang lamun merupakan ekosistem laut yang memiliki berbagai peranan dan fungsi yang penting.

[Baca juga: Produksi Olahan Ikan dengan Konsep Zero Waste]

Padang lamun berfungsi sebagai tempat asuhan (nursery ground), tempat mencari makan (feeding ground), dan tempat memijah (spawning ground).  Berbagai biota laut hidup di padang lamun, baik yang hidup menetap atau hanya sementara. Padang lamun juga memiliki fungsi fisik yaitu memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan gelombang, menangkap sedimen serta melindungi pantai dari erosi. Selain fungsi tersebut, padang lamun menjadi tempat terjadinya siklus nutrien dan sebagai penyerap karbon di lautan (carbon sink) atau dikenal dengan istilah blue carbon.

Padang lamun sebagai tempat mencari makan biota laut seperti penyu hijau / Flickr

Pertumbuhan sektor industri dan ekonomi di berbagai negara yang relatif cepat menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2) dan CH4 di atmosfer. Akibatnya peningkatan tersebut berkontribusi dalam perubahan iklim dan berdampak pada perubahan pola cuaca, produksi makanan, serta kehidupan manusia. Berbagai kegiatan atropogenik berkonstribusi besar terhadap gas rumah kaca yang ada di atmosfer, terutama pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan penggunaan lahan utamanya lahan hutan.

Fungsi hutan darat sebagai penyimpan emisi gas dari efek rumah kaca telah banyak diketahui (green carbon). Kini diketahui bahwa karbon juga disimpan dalam bentuk biomasa dan sedimen pada ekosistem vegetasi pesisir seperti pada rawa asin (salt marshes), mangrove, dan lamun. Biomasa vegetasi pesisir hanya sekitar 0,05% dibandingkan biomasa tumbuhan di daratan, tetapi mampu menyimpan karbon dengan jumlah yang sebanding setiap tahunnya. Peran vegetasi pesisir termasuk lamun dalam  menyimpan karbon dikenal dengan istilah blue carbon. Diperkirakan blue carbon dapat menyerap sekitar 55% karbon yang berada di atmosfer dan digunakan untuk proses fotosintesis yang kemudian disimpan sebagai biomasa.

Selain menyimpan karbon di biomasa, lamun  juga berpotensi menyimpan biomasa yang luruh (serasah) dan terdekomposisi di dalam sedimen. Berbeda halnya dengan simpanan karbon oleh vegetasi daratan (hutan) yang tersimpan dalam kurun waktu puluhan tahun, simpanan karbon oleh lamun dalam bentuk sedimen diperkirakan dapat tersimpan dan terkubur hingga ribuan tahun. Ekosistem lamun dapat menyerap karbon sebesar 27,4-44TgC/tahun atau sekitar 0,56-1,82 ton C/ha/tahun. Indonesia sendiri memiliki luas padang lamun sekitar ± 30.000 km2 yang memungkinkan simpanan karbonnya mencapai 386,5 TgC.

Bumi sebenarnya telah dilengkapi dengan penyerap CO2 alami, yaitu atmosfer, daratan, dan lautan. Namun seiring dengan penebangan hutan yang kian marak terjadi, kemampuan alami daratan (hutan) dalam menyerap CO2 pun mengalami penurunan. Kini perhatian mulai ditujukan ke lautan karena potensinya dalam mereduksi karbondioksida yang menjadi penyebab pemanasan global. Lautan berperan penting dalam siklus karbon global, tidak hanya berperan sebagai penyerap karbon terbesar dalam jangka waktu yang panjang, lautan juga menyimpan dan mendistribusi ulang sekitar 93% CO2 yang ada di bumi. Oleh karena itu ekosistem lautan khususnya lamun perlu dijaga dan dipelihara mengingat pentingnya fungsi ekosistem laut khususnya lamun bagi kehidupan.