Petani Indonesia Terus Berkurang, Perkembangan Sektor Pertanian Terhambat

Petani / Pixabay

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Salah satu sektor yang memanfaatkan sumber daya alam dan masih terus dikembangkan oleh pemerintah adalah sektor pertanian. Namun bagaimana jadinya jika petani di indonesia terus berkurang serta lahan pertanian juga terus mengalami penyusutan ? Apakah dalam beberapa tahun yang akan datang indonesia masih dapat menghasilkan pangannya sendiri ?

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi berkurangnya jumlah petani di Indonesia seiring berjalannya waktu, salah satunya adalah menurunnya kualitas tanah. Saat ini petani tidak merasakan keuntungan tinggi dalam menjalankan usahataninya. Selain itu juga karena tingginya pembangunan untuk kepentingan komersial atau industri di suatu daerah yang terpaksa menggunakan lahan pertanian. Tingginya harga yang ditawarkan para investor menjadikan petani tergiur dan akhirnya menjual lahannya. Hal tersebut merupakan awal dari terjadinya alih fungsi lahan dan menyebabkan lahan pertanian berkurang secara terus menerus.

Lahan pertanian yang terus berkurang dapat dilihat pada data BPS tentang Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian menurut Golongan Luas Lahan yang Dikuasai Tahun 2003 dan 2013. Rumah tangga usaha pertanian dapat menjadi indikasi jumlah lahan pertanian yang digarap oleh petani. Pada tahun 2003, terdapat 31,2 juta rumah tangga petani yang menggarap lahan untuk pertanian. Sedangkan pada tahun 2013, hanya terdapat 26,1 juta rumah tangga saja. Artinya jumlah rumah tangga petani mengalami penurunan sebanyak 5,1 juta atau sebesar 16,3 persen. Dalam kurun waktu 10 tahun tersebut sudah terjadi penurunan yang sangat besar. Maka dapat diprediksikan hingga saat ini sudah terjadi penurunan jumlah petani yang cukup besar pula.

Kurangnya pengetahuan dan motivasi untuk meningkatkan produktivitas lahan pertaniannya menjadi salah satu penyebab petani tidak mau meneruskan untuk menggarap lahannya. Petani banyak memilih lahan tersebut dijual untuk pembangunan perumahan, hotel, dan kepentingan komersial lainnya. Sehingga petani yang sudah menjual lahannya terpaksa beralih profesi. Para petani biasanya beralih profesi menjadi buruh bangunan, tukang ojek, tukang becak, dan lain sebagainya. Selain itu, kurangnya minat anak muda untuk menjadi petani juga menjadi penyebab tidak adanya regenerasi petani. Hal tersebut jelas menyebabkan semakin berkurangnya jumlah petani di Indonesia.

Berdasarkan data BPS, tenaga kerja di bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan mengalami penurunan yang sangat terlihat jelas 10 tahun terakhir yaitu dari tahun 2006 – 2016. Pada tahun 2006 terdapat sebanyak 40,1 juta tenaga kerja di bidang tersebut. Sedangkan di tahun 2016 hanya terdapat sebanyak 37,8 juta tenaga kerja. Artinya, indonesia mengalami penurunan jumlah tenaga kerja dibidang pertanian sebesar 2,3 juta tenaga kerja atau sekitar 5,89 persen.

Pada kasus seperti ini, dukungan dari pemerintah jelas sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kembali pertanian di Indonesia. Dukungan pemerintah dapat berwujud seperti sarana dan prasarana, bantuan subsidi input usahatani, maupun penyaluran tenaga penyuluh untuk memberikan penyuluhan dan informasi dalam hal pertanian sehingga para petani mampu mengelola lahan pertaniannya dengan baik dan mendapat keuntungan yang tinggi. Namun peran serta pemerintah sampai saat ini dirasa masih sangat kecil. Apabila produksi pangan di Indonesia tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, maka pemerintah cenderung memilih untuk melakukan impor karena dirasa lebih mudah dari pada harus memperbaiki sektor pertanian di negara ini. Jika hal tersebut terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia akan semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.