Penyebab Bau Lumpur pada Ikan dan Cara Mengatasinya

Masakan berbahan ikan / Flickr

Kegiatan budidaya perikanan kini semakin gencar dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar akan ikan segar. Namun pernahkah Anda merasakan masakan dari ikan hasil budidaya yang berasa tanah atau berbau lumpur?

[Baca juga: Penyebab Bau Pada Kolam Lele dan Cara Mengatasinya]

Bau lumpur pasti sangat mengganggu dan merugikan, baik bagi konsumen maupun bagi pembudidaya. Daging ikan yang berbau lumpur ini menyebabkan daging terasa kurang enak dan tidak disukai konsumen. Akibatnya nilai jual dari ikan hasil budidaya ini dapat menurun dan dapat menyebabkan menurunnya pendapatan pembudidaya ikan.

Penyebab Bau Lumpur

Bau lumpur ditemukan pada beberapa ikan budidaya seperti ikan lele, mas, patin, gurame, nila, dan bandeng. Bau lumpur pada daging ikan atau yang dikenal dengan istilah off-flavours disebabkan karena kondisi perairan yang digunakan untuk budidaya sangat subur. Dua senyawa kimia yang menjadi penyebab utama bau lumpur pada ikan yaitu geosmin dan 2-methylisoborneol (MIB). Kedua senyawa ini merupakan metabolit sampingan yang dihasilkan oleh mikroorganisme terutama dari kelompok alga hijau biru (Cyanophyta) seperti Oscillatoria sp., dan Anabaena sp., fungi (Actinomyces), dan bakteri (Streptomyces tendae). Senyawa tersebut dalam perairan mudah diserap oleh ikan melalui insang dan masuk ke dalam daging kulit, perut dan usus sehingga menyebabkan bau lumpur pada ikan.

Senyawa geosmin menyebabkan ikan berasa lumpur, sedangkan senyawa MIB menyebabkan daging ikan berasa apek. Banyaknya geosmin dan MIB yang diserap oleh ikan ditentukan oleh konsentrasi, lamanya ikan berada dalam perairan yang mengandung senyawa tersebut, dan suhu perairan. Jumlah geosmin dan MIB yang dihasilkan oleh Cyanophyta meningkat pada musim kemarau ketika suhu di perairan meningkat. Meningkatnya populasi mikroorganisme penghasil geosmin dan MIB disebabkan karena pemberian pakan dan pemupukan lahan dengan menambah nutrisi pada kolam budidaya. Sisa pakan yang tidak termakan dan menumpuk di perairan menyebabkan perairan menjadi subur untuk pertumbuhan mikroorganisme.

Cara Mengatasi Bau Lumpur

Pencegahan agar tidak terjadi bau lumpur pada daging ikan hasil budidaya perlu dilakukan guna mendapatkan hasil produksi budidaya yang diminati masyarakat. Upaya yang paling mudah dilakukan untuk menghilangkan bau lumpur pada daging ikan hasil budidaya yaitu dengan melakukan pemberokan. Pemberokan dilakukan pada air jernih yang mengalir selam kurang lebih 1 minggu. Ikan yang dibero dalam wadah air jernih yang mengalir dipercaya dapat menghilangkan bau lumpur dalam daging ikan. Arus air yang terjadi selama pemberokan menyebabkan oksigen di kolam meningkat dan sisa-sisa metabolisme ikut terbawa arus keluar kolam.

Kondisi kolam pemberokan yang berarus menyebabkan ikan banyak beraktifitas dan melakukan pergerakan otot. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan energi meningkat. Pada ikan yang diberok, kebutuhan energi berasal dari katabolisme lemak dan protein dari dalam tubuhnya. Meningkatnya kebutuhan energi otomatis akan meningkatkan katabolisme lemak dan protein tersebut.

Pemberokan dipercaya dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan bau lumpur pada daging ikan hasil budidaya. Hal ini karena senyawa geosmin dan MIB tersebut yang menjadi penyebab bau lumpur pada ikan terikat dalam jaringan lemak. Selain melakukan pemberokan selama kurang lebih 1 minggu, ikan budidaya perlu dipuasakan selama 1-2 hari menjelang panen untuk menghilangkan bau lumpur. Hal tersebut bertujuan untuk membersihkan isi perut dan saluran pencernaan ikan.

Meskipun bau lumpur pada daging ikan dapat diatasi, namun lebih baik apabila bau lumpur tersebut dapat dicegah dan dihindari. Pencegahan bau lumpur pada daging ikan yang mungkin dilakukan adalah dengan melakukan CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik), diantaranya dengan menjaga kualitas air budidaya. Air budidaya yang dijaga tetap bersih dan terhindar dari blooming Cyanophyta dapat mengurangi kemungkinan terjadinya bau lumpur pada daging ikan.