Potensi Budidaya Rumput Laut dan Langkah Pengembangannya di Indonesia

Budidaya rumput laut / WWF

Rumput laut merupakan makro alga yang termasuk dalam divisi Thallophyta, yaitu tumbuhan yang mempunyai struktur kerangka tubuh yang terdiri dari batang/thalus serta tidak memiliki daun dan akar. Jenis rumput laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia adalah Gracilaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargasum, dan Tubrinaria.

[Baca juga: Mengenal Kepiting Bakau dan Potensi Usahanya]

Rumput laut menjadi salah satu komoditas penting perikanan Indonesia yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Indonesia memiliki kurang lebih 555 jenis rumput laut dan sebagian besar produk-produk rumput laut telah diekspor sebagai rumput laut kering maupun olahan. Seiring bertambahnya permintaan dunia terhadap komoditas rumput laut, pemerintah selalu mendorong budidaya serta industrialisasi rumput laut tersebut.

Potensi dan kualitas rumput laut Indonesia serta produk turunannya sangatlah luar biasa. Ini yang menjadikannya diminati oleh pasar dunia. Rumput Laut banyak digunakan sebagai produk makanan dan kesehatan. Tidak hanya itu, tumbuhan ini juga digunakan sebagai pupuk taman dan pertanian. Untuk pengembangan selanjutnya, dapat digunakan sebagai bahan bio diesel. Jika melihat segi pemasaran, produk added value rumput laut dapat berupa makanan, pupuk, bahan makanan tambahan, pengendalian pencemaran, dan bahan kecantikan.

Luas indikatif lahan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya komoditas rumput laut Indonesia mencapai 769.452 ha. Dari jumlah itu, baru sekitar 50% atau seluas 384.733 ha yang secara efektif dimanfaatkan, dan akan terus dimanfaatkan sehingga target produksi tahun 2014 sebesar 10 juta ton dapat dicapai.

Potensi Luas Lahan Budidaya Rumput Laut / DJPB

Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa terdapat 5 provinsi yang memiliki lahan rumput laut yang sudah efektif dimanfaatkan untuk budidaya, yaitu Nusa Tenggara Barat seluas 22.665 hektar, Nusa Tenggara Timur seluas 34.382 hektar, Maluku seluas 49.593 hektar, Sulawesi Tenggara seluas 27.385 hektar, Maluku Utara seluas 41.090 hektar, Irian Barat seluas 25.796 hektar, Bangka Belitung seluas 38.329 hektar, dan Sulawesi Tengah seluas 32.713 hektar.

Komoditas rumput laut menjadi salah satu hasil laut yang diunggulkan dan dikembangkan secara luas, tersebar di seluruh wilayah perairan Indonesia dengan luas lahan yang sudah efektif dimanfaatkan mencapai 384,73 ribu hektar, telah produksi pada tahun 2010 sebesar 3.082.112 ton yang mana produksi tertinggi ditempati oleh Provinsi Sulawesi Tengah dengan jumlah 833.327 ton, kemudian diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (750.134 ton), Nusa Tenggara Timur (596.348 ton), Jawa Timur (383.580 ton) dan Nusa Tenggara Barat (152.534 ton).

Dalam pengembangan rumput laut di Indonesia, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, bertekad memperkuat produksi rumput laut Indonesia sebagai penghasil utama rumput laut dunia. Sehingga untuk mewujudkannya, pemerintah menyiapkan beberapa langkah tindakan.

Kiat Menteri KP Kembangkan Rumput Laut / KKP
  1. Tax allowance yaitu keringanan pajak penghasilan (PPh) dari nilai investasi (30%).
  2. Bebas bea masuk untuk impor mesin bagi investasi baru atau perluasan yang diberlakukan mulai tahun 2015.
  3. Pengendalian ekspor yang pada tahun 2020 diberlakukan pergantian produk ekspor untuk rumput laut mentah menjadi rumput laut olahan.
  4. Klasterisasi industri yang terdiri atas 3 zona dari hulu ke hilir yaitu produsen (zona I), pasar dan penyedia sarana produksi (zona II), dan industri pengolahan (zona III).

Dengan adanya langkah – langkah perwujudan untuk mengembangkan produksi rumput laut di Indonesia tersebut, pemerintah telah menargetkan produksi rumput laut pada tahun 2019 sebesar 19,5 juta ton rumput laut basah.