Potensi dan Manfaat Umbi Garut

Umbi Garut / Cybex Pertanian

Tanaman umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar maupun talas biasanya dijadikan panganan pengganti nasi karena mengandung pati yang tinggi. Tidak hanya diolah dan disajikan sederhana seperti direbus atau digoreng, umbi-umbian tersebut banyak dikembangkan menjadi berbagai macam variasi olahan makanan seperti keripik, kolak, dan sebagainya.

[Baca juga: Mengenal Timun Suri, Manfaat dan Strategi Pemasarannya]

Umbi-umbian yang juga memiliki banyak manfaat dan kegunaan adalah umbi garut (Maranta arundinaceae). Garut memiliki banyak kegunaan, diantaranya dapat diolah menjadi bahan makanan hingga obat-obatan. Sebagai umbi-umbian, garut tentu memiliki kadar pati yang tinggi. Kandungan garut antara lain 69-72% air, 10,2-20% protein, 0,1% lemak, 8-16% pati, 0,6-1,3% serat, dan 1,31-1,4% abu.

Tanaman garut tumbuh baik pada tanah gembur yang kaya humus dan drainase baik, pada dataran rendah dengan ketinggian 60-90 mdpl dan curah hujan berkisar 1500-2000 mm/th. Tanaman garut tidak tahan pada paparan sinar matahari tinggi, sehingga perlu adanya naungan. Garut sebaiknya ditanam pada awal musim hujan, yakni sekitar bulan Oktober. Kemudian umbi garut dapat dipanen ketika tanaman sudah berumur 10-12 bulan. Meskipun kandungan pati maksimal pada umur tanaman 12 bulan, tetapi pada umur tersebut umbi garut sudah banyak berserat sehingga cukup sulit untuk mengekstrak pati. Namun apabila ingin dijadikan keripik atau emping, umbi garut sudah dapat dipanen sejak berumut 6-7 bulan.

Manfaat dan Olahan Umbi Garut

Tanaman garut tersebar di berbagai daerah di Jawa terutama Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Madura, juga beberapa daerah di Sumatera dan Sulawesi. Olahan utama umbi garut adalah tepung garut karena kandungan patinya cukup tinggi. Tepung garut selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai olahan makanan, seperti kue basah dan kue kering. Selain tepung, umbi garut juga banyak diolah menjadi emping garut. Emping garut memiliki wujud yang mirip emping melinjo, tetapi emping garut lebih sehat dan memiliki resiko yang jauh lebih rendah untuk dikonsumsi oleh penderita asam urat.

Manfaat lain dari garut ini adalah dapat digunakan sebagai bahan obat-batan, antara lain untuk obat disentri, obat eksim dan obat penyembuh borok. Selain itu, garut juga berguna untuk menurunkan demam, memperbanyak ASI, mengatasi diare, serta mengobati tapal luka dari serangan panah beracun. Tidak hanya itu, perasan garut juga dapat dijadikan penawar racun ular dan sengatan lebah.

Potensi Emping Garut

Meskipun tanaman ini memiliki banyak manfaat, namun belum dilakukan pengembangan garut dalam skala besar. Biasanya garut hanya dibiarkan tumbuh liar di pekarangan atau hutan, tidak dibudidayakan secara khusus dan teratur. Potensi ini yang perlu dimanfaatkan karena hasil olahan garut terutama tepung dan emping memiliki mangsa pasar yang cukup besar.

Warsuti, adalah salah satu warga Pajangan, Bantul, Yogyakarta yang telah berpengalaman selama 8 tahun dalam memproduksi emping garut. Ia memanfaatkan tanaman garut yang tumbuh liar di depan rumahnya untuk dijadikan emping. Namun dalam memproduksi emping, Warsuti juga membeli umbi garut di pasar untuk memenuhi kebutuhan produksi. Uuntuk sekali produksi dibutuhkan 10 kg umbi garut yang dapat menghasilkan 2,5 kg emping.

1 kg emping garut mentah buatan Warsuti dibanderol seharga Rp 30.000 dan dalam satu kali produksi Warsuti dapat meraup keuntungan sekitar Rp 50.000. Ia mengaku bahwa tidak mengalami kesulitan dalam menjual emping garut buatannya karena banyak pembeli yang datang langsung ke rumahnya, bahkan saat hari raya dan musim libur panjang, pembeli tidak hanya berasal dari sekitar Bantul dan DIY saja, tetapi juga datang dari berbagai daerah lainnya seperti Jakarta dan Kalimantan.

Pemerintah DIY telah turun tangan untuk mendukung produsen olahan garut. Melalui lembaga Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, Warsuti dan beberapa temannya mendapat pelatihan untuk mengolah garut agar lebih menarik lagi. Pelatihan ini telah dilaksanakan pada tahun 2014 lalu di Gunung kidul, Yogyakarta. Pelatihan yang dilakukan meliputi pengolahan emping rasa gurih, pedas dan manis, lalu membuat olahan mie dari tepung garut. Selain mendapat pelatihan, Warsuti juga mendapat bantuan berupa benih garut dan alat-alat untuk pengolahan emping. Warsuti mengatakan bahwa setiap dusun diwakili beberapa orang untuk melakukan pelatihan ini.

Selain mengembangkan variasi olahan emping garut, teknik pemasaran juga perlu ditingkatkan. Pemasaran dapat dilakukan dengan menjajakan emping garut di beberapa lokasi wisata, terutama daerah wisata Bantul untuk dijadikan oleh-oleh. Pemerintah sedang gencar mengembangkan potensi wisata di Bantul, kesempatan ini dapat juga dimanfaatkan untuk mendukung potensi berbagai olahan makanan khas Bantul, seperti emping garut ini. Tidak hanya itu, pemasaran juga dapat dilakukan melalui penjualan online, ini banyak memberi keuntungan, terutama dalam memperluas pasar. Saat ini beberapa produsen emping garut dan tepung garut sudah menjual produk olahan garutnya secara online.

Referensi: Subejo, N. S. Al Arifa, M. H. Mustofa. 2018. Lima Pilar Kedaulatan Pangan Nusantara. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.