Potensi Produktivitas Cabai Merah, Komoditas Hortikultura “Eksklusif” di Indonesia

Pasti semua tahu dengan komoditas pertanian yang satu ini. Tanaman Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak diusahakan oleh petani di dataran rendah sampai dataran tinggi. Penanamannya dapat dilakukan di lahan sawah maupun lahan kering. Manfaatnya beragam, dapat sebagai bumbu masak atau sebagai bahan baku berbagai industri makanan dan obat-obatan yang membuat cabai merah semakin menarik untuk diusahakan.

Kebutuhan akan cabai terus meningkat sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat, termasuk permintaan di off season yaitu musim hujan. Padahal saat musim hujan, budidaya tanaman cabai lebih beresiko dibandingkan dengan musim kemarau karena tanaman cabai tidak tahan terhadap hujan lebat yang terus-menerus. Kelembaban udara yang tinggi meningkatkan penyebaran dan perkembangan penyakit tanaman, terutama dari golongan jamur. Balai Penelitian Tanaman Sayuran melaporkan, prediksi kebutuhan dalam negeri akan cabai merah sebesar 720.00 – 840.000 ton/ha, sedangkan produksi nasional dengan luas panen 126.790 ha sebanyak 1.061.428 ton/ha. Produksi tanaman cabai merah sudah dapat mencukupi kebutuhan tahunan, namun fluktasi produksi sepanjang tahun menyebabkan terjadinya lonjakan harga yang berimbas pada inflasi

Coba kita lihat grafik produktivitas cabai merah di Indonesia berikut :

 

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jendral Hortikultura.

Bisa dilihat bahwa potensi produktivitas cabai merah terus meningkat. Padahal areal panen berkurang dari 128.734 ha pada tahun 2014 menjadi 120.847 ha di tahun 2015 (BPS). Hasil tersebut masih rendah apabila dibandingkan dengan potensinya yang dapat mencapai lebih dari 20 ton/ha. Oleh karena itu perlu diadakan upaya peningkatan produksi cabai dengan memperhatikan dan mengusahakan teknik budidaya yang benar agar mendapat hasil optimum dan mutu yang baik.

Menurut Syukur dkk. dalam buku Budidaya Cabai Panen Setiap Hari, rendahnya produktivitas cabai dapat disebabkan oleh serangan penyakit antraknosa dan penyakit daun keriting kuning. Penyakit tersebut sudah sangat meluas di Indonesia dan merugikan karena menyerang berbagai fase perkembangan serta berdampak pada kehilangan panen sebesar 75%. Aplikasi fungisida saat benih dan pembibitan dapat mencegah infeksi penyakit. Sedangkan menurut Hardiansyah pada penelitannya yang berjudul Pengaruh Pemberian Pyraclostrobin terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L), untuk mengurangi dampak penyakit daun keriting kuning oleh infeksi Gemini virus dapat dilakukan penanaman tanaman barrier yaitu tanaman jagung manis atau hibrida disekeliling lahan dengan jarak tanam rapat. Jagung ditanam 3 minggu sebelum pindah tanam tanaman cabai.

Penggunaan varietas unggul sangat penting. Sebaiknya pilih varietas – varietas yang telah dirilis Kementerian Pertanian. Cermati deskripsi varietas sebelum menanam, sesuaikan dengan lahan yang akan ditanami. Misalkan lahan terletak diketinggian 500 mdpl, saat ini curah hujan cukup tinggi sehingga membutuhkan varietas yang toleran terhadap iklim basah terutama toleran genangan, jenis tanah andisol. Maka, cabai keriting merah Varietas Kencana dapat menjadi pilihan, seperti yang dikatakan Setiawan pada penelitian Sumbangsih cabai keriting Varietas Kencana dalam menghadapi kebijakan swasembada cabai. Selain menyeseuaikan lahan, menurut Syukur dkk., kita dapat menduga hasil produksi berdasarkan informasi dari deskripi varietas. Misalkan Varietas PM 999 berat buah 5-6 gram, potensi produktivitas 0,8 – 1,2 kg. Apabila lahan yang ditanami seluas 500m2 dengan populasi 1000 tanaman, maka produktivitas dapat ditaksir sebesar 1000 kg/m2 jika dikonversi ke ha maka dihasilkan 20 ton/ha.

Hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki lahan pertanian. Lahan tersebut berpotensi ditanam berbagai komoditas termasuk cabai merah. Produktivitas cabai merah yang meningkat masih di bawah potensi optimal. Hal ini dapat disebabkan berbagai faktor seperti hama dan penyakit yang menyerang serta penggunan benih yang belum sesuai. Budidaya pertanian yang dilakukan sebaiknya sesuai dengan SOP, didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan, sehingga perencanaan dan harapan produksi dapat tercapai.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.