Potensi Terumbu Karang Lautan Indonesia Terancam

Wilayah Indonesia terdiri dari 2/3 wilayah teritorialnya merupakan wilayah perairan laut. Indonesia memiliki kekayaan laut yang begitu besar dengan keanekaragaman hayati laut yang beragam, salah satunya adalah karang. Terumbu karang di Indonesia mencapai 14% luas terumbu karang di dunia yang menempati peringkat paling atas dengan luas 75.000 km2. Terumbu karang di Indonesia saat ini dalam tahap konservasi dan rehabilitasi karena kerusakan terumbu karang di Indonesia kian mengancam potensi terumbu karang yang ada di perairan Indonesia.

Kondisi terumbu karang Indonesia secara umum berdasarkan hasil pusat penelitian oseanografi LIPI  dari tahun 1993 hingga 2015 yang diambil dari 93 daerah dan 1.259 lokasi adalah 5 persen berstatus sangat baik, 27,01 persen dalam kondisi baik, 37,97 persen dalam kondisi buruk, dan 30,02 persen dalam kondisi buruk. Kawasan terumbu karang di Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah yaitu bagian barat, tengah ,dan timur. Namun kondisi terumbu karang semakin menurun terjadi di wilayah Indonesia timur, kondisinya adalah 4,64 persen berstatus sangat baik, 21,45 persen baik, 33,62 persen buruk, dan 40,29 persen sangat buruk. Sedangkan, kondisi paling baik ada di Indonesia bagian tengah dengan 5,48 persen dikategorikan sangat baik, 29,39 persen baik, 44,38 persen buruk, dan 20,75 persen sangat buruk. Sementara untuk status Indonesia bagian barat ialah 4,94 persen sangat baik, 28,92 persen baik, 36,68 persen buruk, dan 29,45 persen sangat buruk.

Grafik Kondisi Terumbu Karang Indonesia

Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa kondisi terumbu karang di Indonesia menurun. Kerusakan terumbu karang di Indonesia bersumber dari berbagai hal secara ekologis maupun dari aktivitas manusia. Terumbu karang sangat sensitif terhadap kualitas air sebagai tempat hidupnya. Mereka memiliki persyaratan yang tinggi untuk dapat hidup di suatu perairan, yang paling riskan yaitu suhu dan kejernihan air. Perubahan suhu dalam perairan laut diakibatkan secara ekologis dari global climate change yang saat ini terjadi. Namun dampak akibat ekologis tidak separah dampak akibat dari aktivitas manusia.

Di Indonesia, mayoritas kerusakan terumbu karang diakibatkan oleh tindakan manusia yang sembrono. Misalnya aktivitas penangkapan tidak ramah lingkungan, yaitu menggunakan bahan peledak ataupun racun sianida, aktivitas wisatawan yang tidak peduli lingkungan, aktivitas industri yang membuang limbah ke perairan, serta aktivitas pergerakan kapal besar di perairan dangkal. Semua aktivitas-aktivitas tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk berimbas merusak terumbu karang tetapi terumbu karang dapat langsung kandas saat aktivitas- aktivitas tersebut berlangsung.

Kondisi terumbu karang di Indonesia perlu perhatian lebih agar tidak terjadi degradasi terumbu karang terus menerus yang akan mengakibatkan penurunan potensi terumbu karang Indonesia bahkan dapat mengancam potensi terumbu karang dunia. Sehingga usaha konservasi dan rehabilitasi terumbu karang harus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah harus membuat kebijakan terkait menunjang akan keberhasilan melestarikan dan menjaga potensi terumbu karang di perairan Indonesia.

Keberhasilan ini dapat dicapai dengan mudah apabila seluruh pihak saling bekerja sama terutama masyarakat yang berperan langsung dalam melakukan kegiatan di perairan. Mereka harus diberikan pengetahuan akan pentingnya terumbu karang dalam menjaga ekosistem perairan untuk tetap mempertahankan produktivitas perikanan yang merupakan pokok penghasilan mereka dan arahan untuk tidak melakukan tindakan apapun yang merusak ekosistem terumbu karang. Namun semua itu butuh pengawasan dan pengontrolan dari pemerintah dalam jangka panjang agar tidak terjadi pelanggaran oleh masyarakat tersebut. Apabila terjadi pelanggaran, pemerintah harus tegas untuk bertindak dan memprosesnya secara hukum agar para pelanggar tidak mengulangi perbuatannya kembali.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fantria Imrantika

Student of Fisheries Resources Management at Universitas Gadjah Mada.