Potret Perkembangan Komoditas Jagung Indonesia

Jagung merupakan salah satu komoditas penting bagi Indonesia. Jagung masih menjadi kebutuhan pangan utama masyarakat dan nilai permintaannya cukup tinggi. Saat ini pemerintah juga menjadikan jagung sebagai salah satu komoditas pangan utama yang diprioritaskan untuk dikembangkan. Hal ini karena selama bertahun-tahun sebelumnya Indonesia terus mengandalkan impor jagung untuk memenuhi kekurangan produksi jagung dalam negeri.

[Baca juga: Menilik Tidak Stabilnya Produktivitas Kopi di Indonesia]

Jagung dijadikan makanan pokok masyarakat Indonesia sebelum tahun 1970. Namun, sejalan dengan perkembangan industri pakan dan meluasnya preferensi konsumsi makanan pokok kepada beras, permintaan jagung untuk makanan pokok terus mengalami penurunan. Selanjutnya, jagung berubah fungsinya menjadi pakan ternak. Pada tahun 2015 Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) memperkirakan bahwa kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak selama setahun mencapai 8,5 juta ton dan hanya sekitar 40% dipenuhi dari jagung yang diproduksi dalam negeri. Hal ini menjadikan jagung sebagai komoditas pangan dengan nilai impor yang tertinggi setelah gula dan kedelai.

Luas panen Jagung pada periode 2005-2015 mengalami perlambatan dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 1,76%. Hal ini menunjukkan semakin terbatasnya lahan untuk perluasan jagung. Berdasarkan data yang diperoleh dari data Kementerian Pertanian disebutkan bahwa penurunan luas panen terendah terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar 7,72% dan tahun 2011 sebesar 6,46%. Peningkatan luas panen tertinggi terjadi pada tahun 2008, yaitu sebesar 10,24%. Luas panen jagung pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 2,40% dibandingkan tahun 2011, sedangkan pada tahun 2013 luas panen jagung menurun sebesar 3,44% dan pada tahun 2014 meningkat sebesar 0,41%.

Untuk lima tahun terakhir, yaitu dari tahun 2013-2017 produksi jagung nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 Indonesia mampu memproduksi jagung sebesar 18,51 juta ton dan pada tahun 2017 produksinya sudah mencapai 27,95 juta ton. Daerah yang paling banyak menyumbangkan produksi jagung adalah Jawa Timur, yaitu sebesar 6,18 juta ton pada tahun 2017. Peringkat selanjutnya adalah daerah Jawa Tengah yang menyumbangkan produksi sebesar 3,51 juta ton. Secara keseluruhan produksi jagung tahun 2017 meningkat 18,55% dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2017 Indonesia berhasil menekan impor jagung sampai 66%. Pencapaian ini bukan hanya karena pemerintah yang terus mendorong produksi di berbagai daerah, tetapi juga karena kerja sama yang baik dengan asosiasi GPMT yang diminta mendorong perusahaan anggotanya untuk bisa lebih mengutamakan menyerap produksi jagung lokal. Dengan begitu, petani akan semakin bergairah untuk bertanam jagung sehingga produksi bisa terpenuhi dan bahkan melebihi kebutuhan konsumsi dan pabrikan yang sekitar 1,7 juta ton per bulannya. Pertambahan luas tanam jagung 2017 diperkirakan sebesar 700 ribu sampai dengan 1 juta hektar. Diperkirakan Indonesia mampu surplus jagung di tahun 2018 ini.

Di akhir tahun 2017 Indonesia diproyeksikan berada di posisi tujuh sebagai negara penghasil jagung terbesar dunia. Posisi ini mengalami peningkatan berdasarkan Organisasi Pertanian Dunia (FAO) tiga tahun lalu. Peningkatan peringkat tersebut diukur dari keberhasilan suatu negara meningkatkan produksi jagung. Pencapaian ini didapat karena sudah berjalannya program Upaya Khusus (Upsus) melalui pengembangan luas tanam jagung 3 juta hektar, integrasi perkebunan dan Perhutani dengan jagung, kemitraan dengan GPMT, dan kebijakan harga bawah di petani. Pada tahun 2018 ini pemerintah sudah berencana mengerahkan pengembangan 4 juta hektar agar mampu memperbaiki peringkat di FAO tersebut dan tentu saja juga untuk swasembada jagung.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published.