Prinsip-Prinsip Permakultur (Bagian 2)

Desain keyhole bed / Pinterest

Mendesain dari Pola hingga Mendetail (Design From Patterns to Details)

Alam memiliki pola-pola unik dan mudah ditemui, seperti spiral pada tata surya dan sarang laba-laba, bercabang-cabang seperti aliran sungai, dan sejenisnya. Desain di alam menginspirasi perancangan spasial permakultur mulai dari gambaran besar hingga detail, seperti bedengan, jalur lalu lintas, dan seterusnya. Pola-pola tersebut dikombinasikan membentuk sistem permakultur yang efisien dari penggunaan spasial, mengoptimalkan iklim, hingga mencegah bencana.

[Baca juga : Prinsip-Prinsip Permakultur (Bagian 1)]

Integrasi Lebih Baik daripada Terpisah (Integrate Rather Than Segregate)

Setiap elemen memiliki fungsinya masing-masing dalam ekosistem. Dengan mengintegrasikan elemen-elemen tersebut secara tepat, sistem permakultur akan membentuk simbiosis yang saling menguntungkan daripada saling berkompetisi. Integrasi ini sekaligus saling melengkapi dan menyeimbangkan keberadaan elemen-elemen tersebut. Contoh penerapan prinsip ini adalah polikultur, akuaponik, agroforestri, dan sejenisnya.

Menggunakan Solusi yang Kecil dan Lambat (Use Small and Slow Solutions)

Penggunaan ruang dan komponen yang berukuran besar membutuhkan energi serta biaya yang lebih besar dan boros. Permakultur menekankan sistem yang berkelanjutan yang berfokus pada pertanian skala lokal, sehingga membutuhkan solusi yang relatif kecil dan lambat. Penggunaan prinsip ini akan mengoptimalkan efisiensi serta menjaga stabilitas sistem permakultur dan lingkungan yang menopangnya.

Menggunakan dan Menghargai Keanekaragaman (Use and Value Diversity)

Pertanian konvensional biasanya mengutamakan kehomogenan atau monokultur guna efisiensi manajemen budidaya. Permakultur menghargai keanekaragaman sehingga kebun-kebunnya ditanam berbagai macam spesies tanaman. Beragamnya sumberdaya dalam permakultur akan membantu melestarikan sumber plasma nutfah, meminimalisir kerentanan serangan organisme pengganggu tanaman, serta menjaga rantai makanan dan aliran energi dalam ekosistem.

Menggunakan Tepian dan Menghargai Marjinal (Use Edges and Value the Marginal)

Desain dalam permakultur mengoptimalkan ruang yang tersedia, termasuk di daerah tepian dan marjinal. Maka dari itu, desain bedengan dalam permakultur biasanya tanpa tepian, seperti mandala dan lubang kunci (keyhole bed). Penerapan prinsip ini juga dilakukan dengan menanam pohon di tepian, berkebun di lahan sempit perkotaan, dan sebagainya.

Permakultur mandala / Pinterest

Kreatif dalam Menggunakan dan Menanggapi Perubahan (Creatively Use and Respond to Change)

Perubahan iklim berimbas pada lingkungan yang kita tinggali. Manusia harus lebih kreatif dalam beradaptasi terhadap fenomena alam yang terjadi agar dapat bertahan hidup dan mempertahankan kelestarian alam. Prinsip permakultur mengajarkan manusia untuk bekerja sama dengan alam daripada mengontrolnya. Maka, penerapan permakultur bertujuan untuk menjaga keberlanjutan pemenuhan kebutuhan manusia secara bertanggung jawab sehingga dapat dinikmati hingga masa mendatang.