Prinsip-Prinsip Permakultur (Bagian 1)

Permakultur atau permanent agriculture merupakan bentuk pengelolaan pertanian yang memperhatikan kelestarian ekologis secara berkelanjutan sehingga memenuhi kebutuhan manusia hingga masa mendatang. Dalam praktiknya, permakultur memiliki tiga etika yang harus dipenuhi yaitu, care for Earth, care for people, dan fair share. Ketiga etika tersebut saling melengkapi dan menjadi budaya hidup bagi pelaku permakultur. Selain ketiga etika tersebut, permakultur juga berpedoman pada prinsip-prinsip permakultur agar sesuai dengan tujuan dari permakultur itu sendiri.

Etika dan prinsip permakultur / permacultureprinciples.com

Mengamati dan Berinteraksi (Observe and Interact)

Sebelum menerapkan permakultur, amati dan pahami terlebih dahulu bagaimana kondisi dan potensi dari lingkungan tersebut. Lingkungan memiliki pola-pola tertentu seperti musim, siklus makhluk hidup, rantai makanan, dan sejenisnya. Hasil pengamatan kemudian dijadikan pedoman bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan unsur-unsur dan pola yang ada di lingkungan agar selaras.

Menangkap dan Menyimpan Energi (Catch and Store Energy)

Energi yang melimpah di alam tidak selalu tersedia setiap saat, contohnya air saat musim hujan dan cahaya matahari saat malam hari. Sistem permakultur dibuat sedemikian rupa untuk menggunakan dan mencadangkan energi di alam, seperti pembuatan embung, pembangkit listrik, dan lain-lain. Pemakaian energi dalam sistem permakultur dilakukan secara efisien dan bijaksana, sesuai dengan etika yang dianut dalam permakultur.

Memperoleh Hasil (Obtain a Yield)

Permakultur sebagai sistem pertanian haruslah memperoleh hasil untuk memenuhi kebutuhan manusia dan alam. Produksi permakultur dipastikan berkelanjutan dan memiliki produktivitas yang optimum dan tanpa limbah. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan permakultur tetap menjamin bahwa upaya yang dilakukan tidak menghasilkan kerugian dibanding sistem konvesional.

Mengatur Diri Sendiri dan Menerima Timbal Balik (Apply Self Regulation and Accept Feedback)

Paradigma ekosentrisme mengarahkan setiap kegiatan permakultur memposisikan manusia dan makhluk hidup lainnya saling mempengaruhi dan membutuhkan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk yang berakal yang mampu mengatur diri sendiri dalam memenuhi kebutuhannya agar tidak menimbulkan kerusakan di alam. Hubungan timbal balik antara manusia dan alam diupayakan saling menguntungkan untuk menjaga keberlanjutan permakultur dan kelestarian alam.

Menggunakan dan Menghargai Sumberdaya dan Jasa Terbarukan (Use and Value Renewable Resources and Services)

Sumberdaya yang diutamakan dalam sistem permakultur bersifat dapat diperbaharui, seperti sinar matahari, angin, aliran air dan gas alam. Penyediaan sumberdaya dapat dilakukan juga seperti menanam tanaman hutan maupun pohon berbuah yang kayunya dapat dimanfaatkan ketika tidak produktif lagi. Pembuatan sistem yang terintegrasi dapat menghasilkan sumberdaya terbarukan. Contoh: peternakan menghasilkan biogas untuk energi di area permakultur, akuaponik yang menggunakan limbah budidaya ikan untuk nutrisi tanaman, dan lain-lain.

Tidak Menghasilkan Limbah (Produce No Waste)

Prinsip yang menjadi unggulan dari permakultur adalah tidak dihasilkannya limbah yang dapat mencemari lingkungan. Hal tersebut dikarenakan prinsip dalam permakultur yang menggunakan sumberdaya yang dapat diperbarui, sistem yang terintegrasi dan kontinu, sehingga limbah dari setiap kegiatan dalam permakultur tetap dimanfaatkan secara efisien. Maka dari itu, permakultur diharapkan dapat mengurangi tingkat polusi di lingkungan, terutama dari kegiatan pertanian secara luas. Contoh pemanfaatan limbah dalam sistem permakultur adalah kompos sampah dapur, pupuk organik dan biogas dari kotoran hewan ternak, dan sejenisnya.

[Baca juga: Prinsip-Prinsip Permakultur (Bagian 2)]


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fridia Nur Sofiarani

Mahasiswi Agronomi Universitas Gadjah Mada - freelance content writer

Leave a Reply

Your email address will not be published.