Produksi Abalon Dunia dan Potensi Usaha Budidayanya

Produksi abalon Indonesia / WWF Indonesia

Abalon merupakan kelompok moluska laut yang tergolong dalam genus Haliotis, famili Haliotidae, kelas Gastropoda yang hidup di zona intertidal dan sublitoral hingga kedalaman 10 m. Abalon memiliki habitat di perairan karang yang umumnya hidup secara bergerombol. Abalon merupakan salah satu kelompok Gastropoda yang paling bernilai ekonomis tinggi untuk konsumsi.

[Baca juga: Mengenal Kakap Putih sebagai Ikan Bernilai Ekonomis Tinggi]

Abalon dikenal di zaman kuno sebagai “obat mujarab kehidupan” dan sebagai “kaisar kerang” yang merupakan salah satu produk seafood yang bernilai jual mahal di seluruh dunia. Seperti halnya makanan laut lainnya yang mengalami permintaan yang cukup tinggi di pangsa pasar, produksi abalon telah bergeser dari tangkapan ke budidaya, dan saat ini lebih dari 95 persen abalon dunia berasal dari budidaya. Berdasarkan data dari FAO, Pada tahun 2015, perikanan tangkap dunia mendaratkan abalon kurang dari 7 000 ton, hal itu terjadi penurunan 70 persen sejak tahun 1950. Sebaliknya, produksi budidaya abalon dunia tumbuh menjadi lebih dari 135.000 ton pada tahun 2014.

Negara konsumen abalon terbesar masih dipegang oleh negara dari tirai bambu, China. Produksi abalon di negara ini mendekati 115.400 ton pada tahun 2014. Abalon masih menjadi favorit di negara ini bahkan harga pasar rata-rata abalon di pertengahan 2016 US $ 25-27 per kg. Produksi abalon terbesar selanjutnya yaitu negara gingseng, Korea Selatan. Korea Selatan menjadi negara kedua produsen abalon terbesar di dunia yaitu sebesar 9.000 ton pada tahun 2014. Kemudian negara – negara lain produksi abalon seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru, Afrika Selatan, Mexico, Chili, Kanada, Perancis, Islandia, Irlandia, Italia, Namibia, Oman, Spanyol, Taiwan, Thailand, Inggris, dan Filipina yang memproduksi abalon dari budidaya maupun tangkap.

Abalon merupakan salah satu komoditi perikanan laut yang memiliki prospektif tinggi di Indonesia karena nilai jualnya yang cukup mahal dalam pangsa pasar internasional dan ketersediaannya masih di bawah permintaan pasar. Kontribusi Indonesia terhadap industri perikanan abalon masih sangat minim dikarenakan perikanan abalon di Indonesia masih tergolong kecil dan belum memasyarakat dibandingkan usaha perikanan lainnya seperti udang, ikan dan rumput laut. Selain itu, perikanan abalon di Indonesia masih tergantung pada hasil tangkapan dari alam.

 

Abalone Seafood / FAO

Sumberdaya alam abalon di Indonesia tersebar luas di perairan Sumatra, Sulawesi, NTT, Madura, Maluku dan Bali. Jenis abalon yang telah dikembangkan dalam sistem budidaya adalah Haliotis asinina, Haliotis squamata dan Haliotis diversicolor.

Menurut WWF Indonesia, budidaya abalon di Indonesia memiliki potensi yang tinggi, meski sebenarnya masih dalam tahap pengembangan. Dalam tahap pengembangannya benih telah berhasil diproduksi, serta teknologi pembesaran sudah ada, tetapi produksi abalon terkendala dengan masalah administratif pemasaran. Pasar untuk abalon adalah pasar luar negeri seperti Cina, Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat dimana dokumen ekspor sangat diperlukan. Kendala lain yang masih dihadapi adalah masa pemeliharaan yang cukup lama, yaitu untuk H. squamata dibutuhkan sekitar 8 bulan sejak ukuran benih 2,5 cm untuk mencapai ukuran konsumsi (5,5-7 cm). Model budidaya yang terintegrasi dengan komoditi lain seperti disebutkan di atas, yaitu rumput laut cottoni, karamba ikan kerapu, merupakan salah satu cara untuk mengatasi masa budidaya yang cukup lama ini.

Kandungan Gizi Dari Abalon

Nutrient Unit Value per 100 g
Proximates
Water g 60.1
Energy kcal 189
Energy kJ 791
Protein g 19.63
Total lipid (fat) g 6.78
Ash g 1.77
Carbohydrate, by difference g 11.05
Fiber, total dietary g 0
Minerals
Calcium, Ca mg 37
Iron, Fe mg 3.8
Magnesium, Mg mg 56
Phosphorus, P mg 217
Potassium, K mg 284
Sodium, Na mg 591
Zinc, Zn mg 0.95
Copper, Cu mg 0.228
Manganese, Mn mg 0.07
Selenium, Se µg 51.8
Vitamins
Vitamin C, total ascorbic acid mg 1.8
Thiamin mg 0.22
Riboflavin mg 0.13
Niacin mg 1.9
Pantothenic acid mg 2.87
Vitamin B-6 mg 0.15
Folate, total µg 14
Folic acid µg 9
Folate, food µg 5
Folate, DFE µg 20
Vitamin B-12 µg 0.69
Vitamin A, RAE µg 2
Retinol µg 2
Vitamin A, IU IU 5
Lipids
Fatty acids, total saturated g 1.646
14:00 g 0.049
16:00 g 0.953
18:00 g 0.648
Fatty acids, total monounsaturated g 2.741
16:1 undifferentiated g 0.022
18:1 undifferentiated g 2.721
Fatty acids, total polyunsaturated g 1.676
18:2 undifferentiated g 1.474
18:3 undifferentiated g 0.095
18:04 g 0.007
20:5 n-3 (EPA) g 0.054
22:5 n-3 (DPA) g 0.046
Cholesterol mg 94
Amino Acids
Tryptophan g 0.224
Threonine g 0.838
Isoleucine g 0.854
Leucine g 1.386
Lysine g 1.433
Methionine g 0.441
Cystine g 0.261
Phenylalanine g 0.715
Tyrosine g 0.627
Valine g 0.86
Arginine g 1.411
Histidine g 0.378
Alanine g 1.169
Aspartic acid g 1.862
Glutamic acid g 2.819
Glycine g 1.213
Proline g 0.851
Serine g 0.885