Mengenal Ikan Salem dan Produksinya di Indonesia

Ikan salem / Dokumen pribadi

Ikan golongan scombridae seperti ikan salem merupakan komoditas perikanan Indonesia yang banyak diminati pasar karena harganya yang relatif terjangkau dan nilai gizinya baik untuk dikonsumsi keluarga. Pada umumnya komposisi kimia daging ikan salem terdiri dari air (66-84)%, protein (15-24)%, dan lemak (0,1-22)%. Selain itu, ikan ini dapat menjadi umpan segar untuk menangkap ikan – ikan pelagis besar seperti tuna. Ikan salem pun juga memiliki pangsa pasar ekspor yang cukup luas.

[Baca juga: Mengenal Kakap Putih sebagai Ikan Bernilai Ekonomis Tinggi]

Secara umum ikan salem memiliki tubuh berbentuk compressed dan mempunyai batang ekor yang ramping. Ikan salem mempunyai gigi-gigi kecil yang runcing pada rahang atas dan bawah, deretan gigi serupa juga terdapat di langit-langit mulut. Ikan salem mempunyai panjang rata-rata 15-50 cm. Berdasarkan ukurannya ikan salem dibagi menjadi tiga kategori, antara lain kategori juvenil ( dibawah 15 cm), muda (15-28 cm), dan dewasa (diatas 28 cm).

Ikan salem merupakan ikan yang hidup bebas di alam pada perairan epipelagik hingga mesopelagik (biasanya 50-300 m) dan hidup bergerombol dengan sesama jenis dan ukurannya. Pada malam hari, secara bergerombol ikan salem naik ke permukaan laut untuk memangsa euphausida, kopepoda, amphipoda, engraulidae dan cumi-cumi kecil sehingga ikan salem termasuk golongan ikan karnivora.

Ikan salem adalah jenis ikan yang banyak terdapat di berbagai lokasi perairan di seluruh dunia. Hampir semua perairan mengenal ikan salem dengan nama yang berbeda-beda. Keberadaan ikan salem pada suatu perairan pada umumnya mengindikasikan bahwa pada perairan tersebut masih terdapat ikan – ikan predator. Hal ini dikarenakan ikan salem merupakan mangsa dari ikan-ikan predator dengan nilai ekonomi tinggi seperti tuna.

Ikan ini mampu bertahan hingga kedalaman lebih dari 1.000 meter. Ikan salem merupakan salah satu spesies yang terdistribusi luas di daerah tropis dan sub tropis. Ikan salem dapat hidup di daerah sub tropis karena ikan ini dapat menaikkan suhu darahnya di atas suhu air dengan aktivitas ototnya. Hal ini menyebabkan mereka dapat hidup di air yang lebih dingin dan dapat bertahan dalam kondisi yang beragam.

Distribusi ikan salem tersebar luas di Samudera Pasifik dan tidak ditemukan di Samudera Hindia termasuk Indonesia dan Australia, kecuali Afrika Selatan. Ikan salem banyak ditemukan di barat laut Pasifik, dan di bagian tenggara dan timur laut pasifik. Ikan salem juga hidup bersama jenis ikan pelagis lainnya misalnya jenis makarel dan sarden. Selama musim panas ikan salem bermigrasi ke utara laut pasifik dan selatan pada musim dingin.

Produksi Ikan Salem

Jenis ikan salem telah menjadi primadona produk pemindangan ikan selama ini, namun hanya bisa dipasok dari para impotir. Data Asosiasi Pengusaha Pindang Ikan Indonesia (Appikando) menunjukkan, hingga saat ini rata-rata total kebutuhan bahan baku ikan untuk pindang nasional mencapai 157.838 ton per bulan. Dari kebutuhan tersebut hanya bisa dipasok dari nelayan Indonesia sebesar 76.434 ton atau 48,43 % per bulan. Berarti masih ada kekurangan bahan baku pemindangan ikan sebesar 81.405 ton atau 51,57 %. Sehingga guna memenuhi kekurangan itu, kebijakan membuka impor ikan yang bersifat kondisional atau sementara, merupakan solusi paling realistis.

Populasi ikan salem pada bulan Juli sampai September merupakan populasi tertinggi. Di Indonesia, jumlah impor ikan Scomber japonicus pada bulan Juli sampai September merupakan puncak impor tertinggi sebanyak 45.470 ton. Pada bulan lain, masuknya ikan salem tergolong stabil dimana tiap bulannya selalu ada dalam kisaran 9.184 ton hingga 12.492 ton.

Nilai perputaran ekonomi usaha pemindangan ikan nasional setiap hari mencapai sekitar Rp 89 miliar, dengan kisaran harga pindang ikan Rp 17 ribu per kg. Artinya dalam sebulan saja nilanya bisa berlipat mencapai Rp 2,6 triliun dan dalam 1 tahun bisa mencapai Rp 32 triliun. Melihat besarnya nilai ekonomi tersebut, jelas sudah bahwa kebijakan KKP selama ini yang membuka impor ikan jenis tertentu yang dibutuhkan untuk usaha pemindangan sudah tepat. Bahkan sampai saat ini kebijakan tersebut masih diberlakukan.