Rahasia Meningkatkan Produksi dengan Optimalisasi Lahan

Lahan pertanian / pixabay

Indonesia mempunyai keunggulan tersendiri dalam mendukung sektor pertaniannya. Indonesia adalah negara agraris yang terletak di garis khatulistiwa bumi. Hal ini menyebabkan Indonesia beriklim tropis dan hanya mempunyai 2 musim yang sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan berbagai macam jenis tanaman. Namun kondisi lahan pertanian yang ada sekarang semakin menurun kualitasnya karena kurangnya penanganan yang tepat. Hal ini menyebabkan turunnya produktivitas lahan pertanian.

Lahan pertanian Indonesia sebenarnya sudah terbukti mempunyai kualitas yang tinggi. Terbukti dengan pernah dicapainya swasembada beras pada tahun 1984. Namun yang terjadi sekarang Indonesia berubah menjadi tergantung dengan impor beras untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Jika dilihat dari segi kondisi lahannya memang terjadi banyak perubahan. Lahan sudah tercemar dengan polusi tanah maupun bahan kimia yang terus digunakan oleh petani. Hal ini merubah sifat dasar yang dimiliki tanah. Dapat dikatakan lahan pertanian di Indonesia sudah tidak subur lagi.

Penyebab penurunan produktivitas lahan diantaranya adalah bencana alam yang sering terjadi seperti kekeringan, banjir, serta tingginya serangan hama dan penyakit. Penggunaan pupuk anorganik atau bahan kimia lain juga menjadi penyebab utama. Perlu penanganan yang serius untuk mengembalikan kesuburan tanah menjadi optimal kembali. Dengan kendala yang cukup beragam baik dari segi fisik, biotik, sosial ekonomi, sampai dengan kelembagaan harus bisa dikendalikan. Ada beragam cara untuk meningkatkan produktivitas pada lahan. Namun terdapat cara khusus agar lahan pertanian mampu menghasilkan produksi yang optimal secara berkelanjutan.

  1. Pengaturan jarak tanam, yaitu dengan teknik dan teknologi yang tepat. Misalkan pada padi bisa menggunakan sistem jajar legowo dan pada tanaman hortikultura bisa dengan pemberlakuan jarak tanam yang tepat. Secara kasat mata terlihat bahwa tanaman yang ditanam jumlahnya lebih sedikit namun hasil yang didapat mampu lebih tinggi. Hal ini karena tanaman sama dengan mendapat perlakuan khusus dan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih mendukung.
  2. Dengan mengusahakan agar tanah tertutup sepanjang tahun, yaitu bisa dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman maupun kompos di atas lahan. Langkah ini mampu mencegah dan melindungi tanah dari erosi dan pencucian. Bahan organik yang terkandng akan terjaga dan semakin meningkat.
  3. Sistem budidaya lorong, yaitu dengan menanam tanaman semusim di antara tanaman pagar. Tanaman pagar ini bisa menggunakan tanaman jenis kacang-kacangan. Fungsi dari tanaman pagar pembentuk lorong ini bisa sebagai penahan erosi dan penghasil bahan organik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan
  4. Penggunaan pupuk organik, yaitu pemeliharaan lahan hanya dilakukan dengan pupuk organik. Pupuk organi bisa berupa pupuk kandang atau pupuk hijau yang berperan dalam meningkatkan daya simpan air dan hara di tanah. Dengan hanya penggunaan pupuk organik umur lahan akan semakin lama karena tidak adanya residu dari pupuk kimia yang digunakan dan lingkungan menjadi lebih sehat.
  5. Pengolahan tanah minimum, yaitu untuk mengurangi erosi dan mempertahankan serta memperbaiki struktur tanah. Tanah dengan pengolahan yang berlebihan akan bisa merusak kualitasnya. Alternatif pengolahan tanah bisa dengan memakai jasad pengendali biologi dan teknik manipulasi habitat seperti tumpang sari.
  6. Panen dan pasca panen, yaitu panen dilakukan pada waktu yang tepat dan memperhatikan kegiatan pasca panennya. Jadwal panen yang tepat dan benar mampu menghasilkan produksi yang optimal, terutama produk hortikultura. Teknologi juga berperan disini untuk meminimalkan kehilangan hasil. Pada kegiatan pasca panen juga menggunakan prosedur yang tepat sehingga produk tidak mudah berubah kondisinya akibat pengaruh lingkungan.

Namun permasalah yang mendasar sebenarnya adalah minimnya informasi yang sampai ke telinga petani tentang bagaimana cara meingkatkan hasil produksinya. Keterbatasan fasilitas dan sumber daya yang dimiliki dinilai sebagai pembatasnya. Petani secara umum masih kurang bisa mendapat informasi terbaru tentang dunia pertanian. Para penyuluh pertanian dinilai juga masih rendah tingkat intervensinya sehingga informasi tidak tersampai secara maksimal.