Reklamasi Lahan Bekas Tambang dengan Olahan Sabut Kelapa

Ketersediaan lahan untuk kegiatan pertanian terus bergeser akibat banyaknya lahan yang digunakan untuk pertambangan batubara, emas, nikel, bahkan timah. Lahan bekas tambang tersebut menyebabkan tingkat kesuburan tanah rendah. Pada lahan bekas tambang batubara memilik tingkat kepadatan yang tinggi dan kurang subur karena adanya bahan-bahan timbunan dan lalu lintas alat berat selama proses pertambangan yang membuat permukaan tanah padat dan menutup pori-pori tanah, hal ini menurut Hermawan dalam jurnal mengenai peningkatan kualitas lahan bekas tambang. Kegiatan pertambangan juga berdampak pada ekologi dan manusia.

Dampak negatif dari kegiatan pertambangan ialah hilangnya keanekaragaman hayati dan terjadinya degradasi pada daerah aliran sungai. Selain itu terjadi perubahan bentuk lahan, peningkatan erosi, serta terlepasnya logam-logam berat yang dapat meracuni lingkungan.

[Baca juga: Alih Fungsi Lahan, Tantangan yang Harus Dihadapi Pembangunan Pertanian Indonesia]

Revegetasi bisa dijadikan alternatif untuk reklamasi lahan. Pemilihan jenis pohon disesuaikan dengan kondisi lahan, misalkan tanaman sengon yang adaptif untuk tambang karena cepat tumbuh dan daun yang mudah terurai. Rahmawaty dalam jurnal Restorasi Lahan Bekas Tambang Berdasarkan Kaidah Ekologi menuturkan bahwa perlu penambahan mikoriza yang mampu meningkatkan penyerapan unsur hara seperti fosfat, Cu, Zn, dan Bo untuk membantu pertumbuhan serta meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman.

Reklamasi lahan bekas tambang tidaklah singkat. Hermawan menyimpulkan, perlu waktu selama 12 tahun setelah revegatasi agar kualitas lahan bekas tambang batubara meningkat hingga ke level yang sesuai untuk dimanfaatkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan.

Reklamasi pada umumnya menggunakan amelioran atau bahan untuk memperbaiki tanah seperti kapur, bahan organik, dan sebagainya.  Manajemen top soil (tanah lapisan atas) sangat penting. Masalah fisik, kimia maupun biologi tanah menjadi perhatian khusus. Masalah fisik seperti tekstur dan struktur tanah seperti pemadatan tanah. Bahan organik menjadi solusi untuk mengatasi masalah fisik untuk lahan bekas tambang dengan memanfaatkan  jaring serat kelapa atau cocomesh dan sabut kelapa atau cocopeat.

Cocomesh / produkkelapa
Cocomesh untuk reklamsi / serabutkaryamaluk
Cocopeat / greenmylife.in

Sabut kelapa didapatkan dari produk sampingan dari banyaknya perkebunan kelapa di Indonesia. Komposisi buah kelapa yang terdiri dari 35% sabut kelapa, 12% tempurung, 28% daging buah, dan air buah 25%. Komposisi sabut kelapa yang dominan perlu dikaji kegunaannya sebagai bahan organik sebagai bahan untuk reklamasi lahan bekas tambang.

Menurut Oktavia dalam kajian mengenai Peran Produk Olahan Sabut Kelapa Sebagai Penunjang Kelestarian Ekologi, cocomesh berasal dari bahan serat alami sehingga dapat terurai menjadi humus dan tahan lama. Selain itu, cocomesh mampu menyerap dan menyimpan air serta mampu memperkecil kemungkinan terjadinya erosi pada tanah dan tahan lama. Cocomesh diletakkan di tanah bekas tambang sehingga tanah yang tertutupi terjaga kelembabannya.

Tanaman yang mulai tumbuh dengan cocomesh / kompasania

Pada umumnya cocopeat dikemas dalam bentuk briket, lempengan papan atau serbuk curah. Cocopeat juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik. Tentunya dengan proses pengomposan. Pengomposan menggunakan activator untuk mempercepat proses penguraian.

Penelitian Hasriani dkk tentang Kajian Cocopeat sebagai Media Tanam, menyimpulkan bahwa media olahan sabut kelapa, yaitu serbuk sabut kelapa cocok digunakan untuk rehabilitasi lahan kritis, karna untuk memperbesar daya simpan air sehingga lebih tahan kekeringan. Selain itu media serbuk sabut kelapa memiliki daya simpan air yang tinggi jika dibandingkan media tanah dan media campuran serbuk sabut kelapa dan tanah.

Memang kegiatan pertambangan tidak dapat kita elak untuk kebutuhan manusia dan cukup berdampak bagi lingkungan. Oleh karena itu, reklamasi lahan bekas tambang perlu dengan manajemen yang baik seperti dikombinasikan dengan cocomesh dan cocopeat, pemilihan pohon untuk revegetasi yang tepa,t serta bahan amelioran yang sesuai karena untuk mengembalikan fungsi lahan bekas tambang menjadi lahan pertanian butuh waktu yang lama.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.