Rokok Jadi Pestisida Organik untuk Aphid!

Kutu daun atau aphid (A. gossypii) hidup berkoloni di bawah permukaan daun atau di sela-sela daun kopi, Kutu daun (A. gossypii) menyebabkan tanaman kopi menjadi kerdil, daun keriting menggulung, dan mozaik. Pada kasus yang ekstrem, kutu daun (A. gossypii) yang berkoloni dapat menggugurkan daun. Kutu daun (A. gossypii) dapat menusukkan bagian mulutnya ke daun dan batang, lalu mengisap nutrisi tumbuhan inang sehingga tunas-tunas yang dimakan daunnya menjadi terganggu. Pada kepadatan yang tinggi, kutu daun (A. gossypii) menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan layu. Kerusakan pada ujung tumbuhan menyebabkan jumlah bunga menjadi berkurang. Kutu daun (A. gossypii) tidak hanya mengisap sari makanan tanaman, tetapi juga sebagai vektor virus.

Untuk mengatasi serangan kutu daun dapat melakukan pengendalian menggunakan pestisida. Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan dari hama, penyakit dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil pertanian. Pestisida secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan populasinya. Insektisida, herbisida, fungsida dan nematosida digunakan untuk mengendalikan hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis pestisida yang lain digunakan untuk mengendalikan hama dari tikus dan siput.

Untuk menjadi lingkungan supaya tetap lestari maka perlu kesadaran dalam melakukan kegiatan pertanian, salah satunya pengendalian hama. Kini pengendalian hama secara organik menjadi pilihan yang tidak dapat lagi dipandang sebelah mata termasuk pemanfaatan pestisida organik dari bahan-bahan alami. Di sini akan dijelaskan bagaimana cara mengendalikan serangan kutu daun/ aphid dengan langkah sebagai berikut :

Bahan-bahan:

  1. rokok kretek 1 batang, atau bila menggunakan rokok mild, gunakan 4 batang.
  2. bawang putih 2 siung
  3. cabe rawit merah 6 biji.

Langkah pertama, bawang putih dan cabai dihaluskan dengan diblender atau ditumbuk. Kemudian tembakau kretek, bawang dan cabe dimasukkan ke dalam plastik botol kemasan dan dicampur dengan air dengan takaran 1 – 1,3 liter air lalu diendapkan semalam. Saringan digunakan untuk mengambil airnya, dan disemprotkan ke daun yang terkena hama aphid.

Berdasarkan hasil uji coba pestisida alami yang telah dilakukan, pada jam 11.30 dimulai penyemprotan, dan jam 3 sore pada hari yang sama sudah terlihat hasilnya (hama aphid rontok dan jatuh ke tanah). Sisanya yang masih ada di belakang tunas daun muda, berpindah ke atas daun dan dengan mudah dapat dirontokkan.

Penyemprotan dilanjutkan selama seminggu ke tunas, daun, batang, ketiak dan belakang daun, serta permukaan tanah. Kemudian dilanjutkan dengan menyemprotkan air ke tanah tempat tanaman tumbuh. Penyemprotan pestisida organik dilakukan sehari sekali dalam satu minggu.

Apabila bersih dari hama aphid, maka perlu menggunakan campuran pestisida organik yang berbeda untuk pencegahan. Untuk pencegahan, sepertinya bisa dicoba dengan pengenceran 1:10 (pestisida alami : air) dapat diberikan seminggu sekali, atau jika dilihat perlu.

Alasan tembakau dapat dijadikan sebagai bahan pestisida organik karena tembakau mengandung bikotin. Nikotin adalah racun yang keras. Hindari kontak pada kulit. Gunakan masker agar tidak masuk ke sistem pernafasan. Racun ini memerlukan 3-4 hari untuk terurai. Buah atau sayuran yang disemprot dengan ekstrak tembakau jangan dimakan sebelum 3 – 4 hari.

Bawang putih mengandung zat-zat yang bersifat racun bagi serangga hama, antara lain awcin, minyak astiri, alinase, germanium, sativine, sulfide, sinistrine, selenium, scordinin, nicotinic, dan saponin. Dialil sulfida yang terkadung pada bawang putih dapat digolongkan sebagai insektisida organik. Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak bawang putih efektif sebagai insektisida organik, hal ini ditandai dengan adanya pengaruh nyata terhadap mortalitas kutu daun.

sedangkan alasan penggunaan cabai karena cabai mengandung zat bernama kapsaisin. Zat itu merampok atom hidrogen dari jaringan makhluk hidup. Jaringan bereaksi dengan mengeluarkan air agar tidak rusak karena dehidrasi. Hal sama dirasakan hama yang terkena atau memakan tanaman yang terkena semprotan air cabai. Ia kepedasan hebat sampai mati mengering dengan membran sel rusak kehabisan cairan. Karena itulah cabai menjadi pestisida nabati yang ampuh menghalau kutu, tungau, ulat, sampai cacing perusak akar. Bahan golongan fenilpropanoid itu juga merusak sistem metabolisme dan koordinasi serangga. Zat itu terdapat dalam semua jenis cabai, mulai dari cabai merah, keriting, rawit, sampai paprika.

Long live organic! dan selamat mencoba.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Emeralda Firdausa Wijaya

Graphic Designer - Young Farmer

Leave a Reply

Your email address will not be published.