Selamatkan Hiu, Lindungi Ekosistem Laut

Hiu merupakan kelompok hewan bertulang rawan atau elasmobranchii yang mana satu kelompok juga dengan ikan pari. Hiu merupakan predator puncak pada rantai makanan ekosistem laut. Secara biologis, hiu termasuk ke dalam ikan yang pertumbuhan dan fekunditasnya membutuhkan waktu yang sangat lama. Ikan hiu menjadi dewasa setelah 7 sampai 15 tahun yang mana akan melahirkan satu sampai sepuluh ekor anakan hiu yang hanya satu kali dalam dua sampai tiga tahun.

Sekarang ini ikan hiu sudah tidak ditakuti manusia mungkin saja ikan hiu yang menjadi takut dengan manusia, mengapa?

[Baca juga: Kondisi Pertanian Indonesia]

Negara Asia, seperti Tiongkok dan Taiwan merupakan konsumen hiu terbesar dunia. Ternyata  masyarakat Tiongkok mempercayai bahwa mengonsumsi ikan hiu sangat bermanfaat dalam peremajaan kulit, peningkatan nafsu makan, pembentukan energi, serta kesehatan ginjal, paru-paru, tulang, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Khasiat sirip hiu telah tertulis dalam buku-buku kesehatan kuno Tiongkok sehingga masyarakatnya sangat gemar memakannya. Kandungan protein dalam sirip ikan hiu sangat tinggi yang bermanfaat untuk metabolisme tubuh.

Berikut komposisi kimia dari sirip ikan hiu:

Water 14.0 g
Protein* 83.5 g
Fat 0.3 g
Carbohydrate 0.0 g
Ash 2.2 g
Calcium 146.0 mg
Phosphorus 194.0 mg
Iron 15.2 mg
Food energy 337 kcal

Source : FAO

Di Indonesia pun kegiatan penangkapan hiu sudah dilaporkan sejak tahun 1996 dengan hasil tangkapan hiu sebesar 100.000 ton. Semakin tahun semakin maraknya pula penangkapan hiu karena harga jual terutama bagian sirip hiu sangat tinggi di pangsa pasar. Kegiatan operasi penangkapan hiu dengan kapal skala kecil biasanya hanya dengan “shark finning”, yaitu kegiatan manusia yang memburu sirip ikan hiu. Setelah berhasil menangkap ikan hiu, mereka hanya memotong siripnya kemudian mengembalikan tubuh ikan kembali ke laut. Berbeda dengan kapal skala besar kebanyakan akan menangkap hiu secara utuh yang mana daging ikan hiu juga akan di jual walau harga pasarnya jauh lebih murah dibanding bagian siripnya.

Penangkapan hiu terbesar terdapat di perairan Raja Ampat yang mana sebanyak 7 juta ton hiu ditangkap setiap tahunnya. Harga yang paling tinggi dalam penjualan hiu yaitu bagian siripnya. Harga sirip hiu warna hitam mencapai 1 juta per kilogram sedangkan harga sirip hiu warna putih di ujung lebih mahal yaitu mencapai 1,5 juta per kilogram.

Peningkatan tingkat permintaan sirip hiu di pasaran, meningkatkan pula penangkapan yang dilakukan para nelayan terhadap ikan hiu yang dapat mengakibatkan spesies hiu terancam punah. Apabila hiu mengalami kepunahan akan berdampak kerusakan rantai makanan pada ekosistem laut yang akan merugikan manusia itu sendiri. Hiu merupakan predator puncak, apabila punah, tropik di bawahnya akan mengalami ketidakseimbangan.

Ikan-ikan karnivora yang biasanya dimangsa oleh hiu akan bertambah banyak yang mengakibatkan ikan-ikan kecil mengalami penurunan sehingga alga yang biasa dimakan oleh ikan-ikan kecil akan bertambah banyak dan mengganggu kehidupan karang. Ketika terumbu karang rusak, ikan-ikan kecil terancam punah, demikian pun ikan-ikan predator. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya produksi ikan-ikan konsumsi bernilai jual tinggi. yang hidup di ekosistem karang sehingga berdampak negatif terhadap ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat terutama nelayan.

Peraturan terhadap pelarangan penangkapan hiu sudah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia yaitu Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon Typus) dan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 48/Permen-Kp/2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor 59/Permen-Kp/2014 Tentang Larangan Pengeluaran Ikan Hiu Koboi (Carcharhinus Longimanus) Dan Hiu Martil (Sphyrna Spp) Dari Wilayah Negara Republik Indonesia Ke Luar Wilayah Negara Republik Indonesia. Hanya saja regulasi tersebut perlu dipertegas kembali terutama pemberian sanksi kepada oknum – oknum pelanggar. Selain itu regulasi perlindungan hiu perlu dikaji kembali untuk seluruh jenis – jenis hiu karena kegiatan penangkapan pada ikan yang fekunditasnya rendah perlu dicegah dan dikontrol agar pertumbuhannya seimbang sehingga mencegah terjadinya kepunahan pada seluruh jenis hiu di Indonesia.

Dalam penyelamatan hiu yang terancam punah saat ini, banyak dilakukan aksi kampanye dari beberapa lembaga peduli lingkungan untuk mengubah pola pikir masyarakat agar tidak mengonsumsi sirip hiu karena hiu merupakan hewan dilindungi dan memiliki peran penting dalam ekosistem laut.

Keselamatan generasi anak cucu kita bergantung pada tindakan apa yang kita lakukan saat ini.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fantria Imrantika

Student of Fisheries Resources Management at Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.