Status Keberadaan Ikan Capungan Banggai sebagai Ikan Endemik Indonesia

Ikan Capungan Banggai atau biasa dikenal dengan sebutan lain Banggai Cardinal Fish (BCF) merupakan salah satu ikan hias endemik Indonesia yang berasal dari keluarga Apogonidae yang dikenal dengan nama ilmiah Pterapogon kauderni. Ikan ini banyak diminati oleh pecinta ikan hias di pangsa pasar internasional. Ikan ini memiliki ciri khas di bagian sirip punggungnya yang panjang yaitu membentuk pola khas dengan warna kontras yaitu hitam dan putih.

[Baca juga: Melestarikan Keberadaan Teripang yang Kian Terancam]

Ikan Capungan Banggai merupakan jenis ikan hias laut endemik Indonesia yang pertama kali ditemukan di perairan laut Pulau Banggai pada tahun 1920. Sehingga Ikan Capungan Banggai ini hanya dapat ditemukan di perairan Kepulauan Banggai yang terletak di wilayah Sulawesi Tengah bagian timur karena penyebarannya yang sangat terbatas. Namun tidak menutup kemungkinan, ikan ini juga dapat dijumpai di perairan Bitung, Ambon, Kendari, Teluk Palu, dan Gilimanuk Bali walaupun dengan jumlah yang tidak begitu banyak. Hal tersebut dikarenakan akibat pelepasan pada jalur perdagangan sebagai populasi introduksi.

Karakteristik Ikan

Habitat alami asli ikan ini yaitu terletak di perairan dangkal dengan kedalaman kurang lebih sampai 5 meter, dengan pH 8,1 sampai 8,4 dan suhu perairan 25 sampai 28 derajat celcius di daerah terumbu karang dan lamun (seagrass). Ikan ini hidup bersimbiosis dengan bulu babi dan anemon yang bertujuan sebagai tempat bersembunyi atau penyamaran untuk melindungi diri dari predator. Sebagai ikan endemik, Ikan Capungan Banggai atau biasa dikenal juga Banggai Cardinal Fish (BCF) ini diketahui memiliki jangkauan yang tebatas dalam wilayah geografisnya yang diperkirakan hanya mencapai 5.500 kilometer persegi dengan total populasi kecil hanya diperkirakan tidak lebih dari 2.4 juta ekor.

Ikan Capungan Banggai sangat popular di pangsa pasar ikan hias terutama di Negara Amerika. Ikan ini sudah banyak dilakukan penangkapan untuk kemudian diperdagangkan di pasar ekspor. Namun sayangnya, penangkapan yang tidak disesuaikan dengan ketersediaan produksi ikan ini di alam mengakibatkan jumlah Ikan Capungan Banggai di alam menjadi terbatas dan terancam keberadaannya. Sehingga ikan ini sudah menjadi kategori red list spesies yang terancam punah di IUCN. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) No. 49/2018 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni) menetapkan Ikan Capungan Banggai sebagai ikan yang dilindungi. Adanya peraturan tersebut dimaksudkan untuk membatasi penangkapan terhadap Ikan Capungan Banggai agar ketersediannya di alam tetap terlestarikan.

Pelestarian Ikan

Berdasarkan keterangan dari Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP, Andi Rusandi, bahwa perlindungan terhadap Ikan Capungan Banggai atau Banggai Cardinal fish (BCF) harus juga melibatkan perlindungan terhadap makrohabitat dari ikan tersebut melalui pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah. Hal tersebut harus dilakukan karena Ikan Capungan Banggai hidup berasosiasi dengan bulu babi dan anemon. Sehingga pengelolaan konservasi terhadap ikan tersebut akan terintegrasi dengan lingkungan habitat alaminya secara menyeluruh.

Upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pelestarian terhadap Ikan Capungan Banggai salah satunya adalah dengan mengupayakan sistem budidaya ikan tersebut yang telah dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon dan dilakukan sistem budidaya exsitu di Yayasan LINI di Bali.  Selain itu juga, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti telah melepaskan sebanyak 1.000 ekor Ikan Capungan Banggai di Pantai Kilo Lima, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tenggah, sebagai upaya untuk melestarikan keberadaan spesies tersebut di perairan habitat aslinya.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fantria Imrantika

Student of Fisheries Resources Management at Universitas Gadjah Mada.