Sumber Energi untuk Kehidupan Ikan Laut Dalam

Kehidupan organisme laut dalam / Mongabay

Laut seperti halnya daratan dihuni oleh biota, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme hidup. Beberapa faktor lingkungan penentu perairan dipengaruhi oleh pengelolaan dan kelangsungan hidup, kondisi fisik alam, pertumbuhan, atau reproduksi organisme akuatik yang dapat dilihat dari sifat fisika, kimia, dan biologi perairan.

Terdapat palung laut yang paling dalam di dunia, yaitu mencapai sedalam 11.000 meter yang dikenal sebagai challenger deep di palung mariana. Laut dalam terdapat organisme yang hidup di dalamnya. Ekosistem laut dalam berbeda dengan ekosistem laut di atasnya. Makhluk hidup yang tinggal di laut dalam memiliki ciri khusus untuk dapat hidup di lingkungan yang ekstrem itu. Bentuk makhluk hidup laut dalam lebih terlihat “aneh” dan “mengerikan”, bahkan peneliti menyebut ikan-ikan laut dalam sebagai ikan hantu “ghost fish” karena bentuknya banyak yang transparan, mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, dan bentuk tubuh yang mengerikan. Namun belum banyak penelitian mengenai kehidupan laut dalam.

[Baca juga: Pengendalian Hasil Tangkap Sampingan untuk Melindungi Hayati Laut]

Ikan-ikan laut dalam dapat hidup di dasar samudra dengan tekanan air ribuan kali dibanding tekanan di permukaan laut karena ikan-ikan laut dalam ini memiliki zat khusus di dalam tubuhnya yang disebut trimethylamine oxide. Zat ini dapat menjaga dinding sel ikan-ikan tersebut secara fleksibel sehingga spesies ini tidak “hancur” atau kelebihan air garam. Sedangkan dari manakah sumber energi untuk kehidupan spesies-spesies ekosistem laut dalam?

Hydrothermal Vents adalah retakkan di permukaan planet yang secara geotermal memanaskan perairan. Hydrothermal vents juga dapat ditemukan di dekat daerah yang aktif secara vulkanis, area di mana lempeng tektonik akan bergerak. Sirkulasi hidrotermal di lautan adalah tenggelamnya air laut yang dingin padat ke dasar laut dan dipanaskan di kedalaman dasar laut itu lalu naik kembali ke permukaan air laut karena densitasnya lebih rendah. Makhluk hidup di daerah laut dalam sangat bergantung pada hidrothermal vents untuk memperoleh energi di laut dalam karena sinar matahari tidak akan mencapai dasar laut dalam. Hydrothermal vents mengandung banyak mineral terlarut yang mendukung populasi besar bakteri kemoautotrofik, dimana bakteri ini hanya mengandalkan komponen – komponen sulfur, hidrogen sulfida, dan bahan kimia lain untuk membentuk material organik melalui proses kemosintesis.

Banyak mikroorganisme di daerah laut dalam yang menggunakan kemosintesis untuk memproduksi biomassa dari satu molekul karbon. Proses mikroorganisme untuk memproduksi biomassa tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, di tempat yang jarang tersedia molekul hidrogen, energi yang tersedia dari reaksi antara CO2 dan H2 dapat menjadi cukup besar untuk menjalankan produksi biomassa. Kemungkinan lain, seperti yang terjadi di lingkungan laut dalam, energi untuk kemosintesis didapat dari reaksi antara O2 dan substansi seperti hidrogen sulfida atau amonia. Pada kasus kedua, mikroorganisme kemosintetik tersebut bergantung pada fotosintesis yang berlangsung di tempat lain dan kemudian baru dapat memproduksi O2 yang mereka butuhkan.

Bakteri belerang mengoksidasikan H2S untuk memperoleh energi. Selanjutnya energi yang diperoleh digunakan untuk melakukan asimilasi proses penyusunan bahan organik itu menggunakan energi pemecahan senyawa kimia, yang mana proses ini disebut kemosintesis. Energi yang akan diperoleh lebih kecil jumlahnya daripada energi yang dihasilkan dengan bantuan cahaya. Kemudian energi tersebut digunakan untuk fiksasi CO2 menjadi karbohidrat. Methanonas merupakan salah satu contoh bakteri metana yang mampu mengoksidasi metana menjadi CO2 . Metana menyediakan karbon dan energi bagi bakteri aerob ini.

Mikroorganisme-mikroorganisme inilah yang akan berperan sebagai produsen primer untuk sumber energi kehidupan ikan-ikan yang ada di laut dalam. Selain itu beberapa organisme laut dalam akan bersimbiosis dengan mikroorganisme ini untuk memperoleh nutrisi.