Cara Budidaya Kepiting Bakau dengan Hasil Optimal

Budidaya Kepiting Bakau / asdc.co.id

Konsumsi kepiting bakau dunia cukup besar, terutama di negara Amerika Serikat. Hal tersebut memberikan peluang usaha yang cukup besar untuk produksi kepiting bakau. Oleh karena hasil penangkapan akan kepiting bakau tidak dapat diprediksi, maka adanya teknik budidaya kepiting bakau akan memberikan harapan tinggi untuk keuntungan besar yang akan diperoleh.

[Baca juga: Akuaponik, Panen Ikan dan Sayuran secara Bersamaan]

Dalam usaha budidaya kepiting bakau terdapat beberapa proses yang dapat dilakukan.

Pengadaan Benih

Dalam proses ini, perlu dipersiapkan calon induk yang baik dengan ciri sebagai berikut :

  1. Induk sehat dengan adanya reaksi gerak cepat aktif dari mata dan kakinya
  2. Induk tidak cacat
  3. Induk matang gonad dan memiliki lebar karapas 9 – 10 cm lebih untuk kepiting betina serta 11 cm lebih untuk kepiting jantan
  4. Induk memiliki berat 185 – 250 gram
  5. Induk tidak terserang jamur atau bercak berwarna coklat hitam di permukaan kulitnya

Kemudian perlu dipersiapkan wadah atau bak pembenihan yang harus dicuci dan dikeringkan selama 2 – 3 hari. Pemeliharaan induk dalam bak harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan biologis alaminya sehingga harus ditambahkan substrat pasir setebal ±15 cm pada dasar bak. Kedalaman air dalam bak 10 – 20 cm dan dilengkapi aerasi dengan jumlah 1 buah per m².

Dalam mempercepat kematangan gonad, pembudidaya biasanya melakukan ablasi mata yaitu pemotongan satu tangkai bola mata. Pada tangkai mata kepiting terdapat organ yang menghambat perkembangan ovary sehingga tujuan dari dilakukannya ablasi mata adalah untuk mempercepat kematangan gonad untuk kepiting bakau betina.

Sebelum ditebarkan, induk diaklimatisasi terlebih dahulu agar tidak stress. Padat penebaran sebaiknya 2 – 3 ekor dengan perbandingan antara jantan dan betina adalah 1 : 2. Setelah ditebar, pemberian pakan terhadap indukan dilakukan dengan rutin pagi dan sore atau malam hari dengan dosis 15% dari berat badan per hari dan 5% dari berat badan per hari menjelang pemijahan. Selain pemberian makan harus dilakukan penyiponan rutin agar kebersihan dan kualitas air tetap dalam kondisi baik.

Penetasan Telur

Seekor induk kepiting dapat menghasilkan telur 1 – 2 juta pada ukuran lebar karapas 10 cm – 12 cm dengan derajat penetasan berkisar 95% – 98%. Kepiting yang memijah ditandai dengan menempelnya massa telur pada bagian abdomen. Setelah memijah, telur akan dierami selama 10 – 12 hari dengan kondisi salinitas 31-32 ppt dan suhu 26,5°C – 29,5°C. Selama pengeraman, induk akan diletakkan pada bak fiber glass berukuran 1 cm x 0,5 cm x 0,5 cm dengan padat tebar induk 1 ekor per bak. Pada saat pengeraman telur, aerasi selalu diperhatikan dan sirkulasi air tidak boleh berhenti (24 jam non stop). Setelah telur berwarna coklat kehitaman atau berumur 7- 8 hari saat dierami, induk ke dalam bak penetasan.

Penetasan telur kepiting dilakukan dalam bak fiber glass berbentuk kerucut dengan volume 300 – 500 liter. Air laut yang digunakan harus bersalinitas 32 – 35 ppt dengan suhu 29°C – 30°C. Apabila telur diserang oleh jamur dapat dilakukan perendaman dengan penambahan larutan formalin 10 ppm selama 24 jam untuk membersihkan jamur tersebut.

Pemeliharaan Larva

Setelah telur kepiting menetas menjadi zoea (larva kepiting), zoea dipindahkan ke bak pemeliharaan yang terbuat dari fiber glass atau beton. Padat penebaran zoea sebaiknya antara 10 – 30 ekor per liter air. Selama pemeliharaan zoea air yang digunakan adalah air laut yang bersalinitas 31 – 33 ppt. Pada masa larva, zoea mengonsumsi pakan alami seperti rotifer, artemia, udang kecil dan lain – lain yang disesuaikan dengan stadia larva.

Kualitas air media pemeliharaan larva harus diperhatikan dengan baik untuk meningkatkan kelulushidupan larva. Pada stadia zoea 1 pH air dipertahankan 9,2% dengan menambahan NaOH. Pada masa stadia zoea 1-2 tidak dilakukan pergantian air karena larva sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Pergantian air dapat dilakukan sebanyak 25% setelah menginjak masa zoea 3. Kemudian ditingkatkan menjadi 30% pada stadia zoea 4 dan stadia megalopa.

Panen Benih

Larva fase megalopa yang sudah berkembang menjadi kepiting muda, dilakukan pemanenan dengan menggunakan saringan dan serok atau seser yang kemudian siap dipindahkan ke tempat pembesaran. Umur kepiting muda yang dapat dipanen yaitu berkisar 30 – 40 hari pemeliharaan. Ukuran kepiting muda yang dipanen memiliki lebar karapas antara 2 – 4 mm dan panjang 2- 3 mm. Cara panen kepiting muda dilakukan dengan mengurangi air media pemeliharaan melalui saringan hingga ketinggian air 10 cm yang kemudian benih diambil menggunakan serok atau seser.

Pembesaran

Pembesaran kepiting bakau dapat dilakukan dengan sistem tambak yang dilakukan di kawasan perairan payau. Penebaran benih dilakukan dengan kepadatan 20.000 ekor per ha yang memiliki lebar karapas 2 – 3 cm dengan berat 40 – 80 gram. Agar benih tidak stress, penebaran sebaiknya dilakukan pada pagi hari dengan suhu air berkisar 27°C – 28°C, salinitas 10 – 15 promil, pH 6,5 – 8,5, dan oksigen terlarut sekitas 5,5 ppm.

Selama pembesaran, kepiting dapat diberi pakan yaitu ikan rucah, daging kerang, dan hancuran daging siput. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan. Pembesaran ikan dilakukan selama 4 – 6 bulan, tergantung ukuran benih dan laju pertumbuhan kepiting tersebut. Setelah itu dapat dilakukan pemanenan dengan kriteria ukuran yang berlaku di pasaran.