Keunggulan dan Cara Budidaya Kakap Putih dengan Keramba Jaring Apung

Sistem budidaya keramba jaring apung / wixnews.com

Kakap putih merupakan salah satu produk unggul yang memiliki pangsa pasar domestik maupun internasional (ekspor) yang cukup luas. Salah satu teknik budidaya yang digunakan dalam usaha budidaya ikan kakap putih adalah keramba jaring apung atau dikenal dengan sebutan KJA.

[Baca juga: Budidaya Lele dengan Sistem Boster]

Keramba jaring apung (KJA) merupakan salah satu wadah yang digunakan untuk budidaya ikan yang ditempatkan dalam badan air dalam yang paling produktif untuk diterapkan terutama untuk membudidayakan komoditas perikanan laut.

Keunggulan

  1. Kompatibel dan tidak bersaing dengan sistem produksi ikan lainnya.
  2. Ideal diterapkan di perairan terbuka.
  3. Dapat diterapkan pada seluruh spesies ikan.
  4. Mudah dikendalikan.
  5. Mudah dipindahkan lokasinya.
  6. Mudah dilakukan pemanenan.
  7. Lebih terjangkau dalam biaya produksi.

Ukuran KJA yang digunakan dalam usaha budidaya kakap putih yang umum digunakan adalah ukuran rakit 2 x 2 meter, 4 x 4 meter, 5 x 5 meter, 6 x 6 meter, 7 x 7 meter, 8 x 8 meter, atau 10 x 10 meter dengan ukuran keramba 3 x 3 x 3 meter atau 5 x 5 x 3 meter. Sedangkan ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang dipelihara, dengan patokan tidak melebihi jarak kedua mata ikan.

Syarat dan Spesifikasi

  1. Rakit KJA dibuat dari bambu, kayu, atau bahan HDPE (High Density Polyethylene) sejenis plastik.
  2. Pelampung dibuat dari bambu bulat, balok kayu, drum, ban bekas, dan sterofoam, sedangkan rakit yang terbuat dari HDPE tidak perlu pelampung.
  3. Jangkar dibuat dari kantong yang diisi pasir, batu yang dibungkus, besi, kayu, beton cetak atapun logam. Bobot jangkar yang digunakan ditentukan oleh arus dan angina, bentuk substrat, serta tekstur substrat dasar perairan.
  4. Bahan untuk membuat keramba harus bersifat tahan terhadap air tawar atau air laut dan dapat menahan beban, terutama pada saat panen. Jaring yang umum dibuat keramba yaitu jaring polietilen (jaring yang dipakai untuk alat tangkap trawl) serta dapat juga menggunakan jaring kawat terbungkus plastik.

Tahapan

Pendederan

Pada saat benih akan ditebar dalam keramba jaring apung harus di aklimatisasi terlebih dahulu dengan cara membuka kemasan benih dan meletakkannya di sisi keramba selama ½ jam sampai 1 jam agar terjadi penyesuaian terhadap suhu lingkungan secara perlahan. Padat penebaran benih ikan tersebut sebanyak 60-70 ekor per m3. Pemberian pakan secara ad libitum (sampai kenyang) sebanyak 10-15% per hari dari total biomassa ikan dengan frekuensi pemberian pakan yaitu 3 kali per hari. Pakan yang diberikan adalah pakan alami seperti ikan rucah atau potongan udang. Namun membiasakan ikan memakan pakan buatan. Pemeliharaan pendederan dilakukan selama 2-3 bulan.

Pembesaran

Setelah dipelihara 2-3 bulan, kakap putih dapat mencapai ukuran berat 60-70 gram per ekor. Sehingga ikan tersebut dapat dipindahkan ke keramba pembesaran. Pada keramba pembesaran, padat penebarannya sebanyak 40-50 ekor per m3. Pemberian pakan pada tahap ini sebanyak 2 kali sehari dengan frekuensi pakan 4-10% berupa pakan alami ataupun pakan buatan seperi pelet. Pada tahap pembesaran, diberikan pula vitamin seperti amolovit dengan dosis 1 g/kg pakan dan probiotik 1-2 cc/kg pakan yang dicampurkan kedalam pakan yang diberikan setiap minggunya.

Pemanenan

Pada umur 6-7 bulan, ikan kakap dapat dipanen karena sudah memiliki ukuran konsumsi, yaitu sebesar 500-700 gram per ekor.