Tips Cara Budidaya Kedelai dengan Produktivitas yang Tinggi

Tanaman kedelai / Pixabay

Kedelai merupakan komoditas penting pertanian Indonesia. Tingkat permintaannya sangat tinggi sampai produksi kedelai dalam negeri tidak cukup dan harus mengimpor. Secara umum memang minat petani untuk mengembangkan kedelai masih rendah jika dibandingkan komoditas pangan lain seperti padi, jagung, dan ubi kayu karena pendapatan yang diperoleh dari usahataninya masih tergolong rendah.

[Baca juga: Tips Budidaya Sawo untuk Hasil yang Melimpah]

Peningkatan produktivitas kedelai melalui perbaikan dan penerapan teknologi masih sangat diperlukan, mengingat produktivitas pertanaman kedelai di tingkat petani masih rendah atau sekitar 1,3 ton/hektar dengan kisaran 0,6-2,0 ton/hektar, padahal teknologi produksi yang tersedia mampu menghasilkan 1,7-3,2 ton/hektar. Berikut tips agar budidaya kedelai mampu memiliki nilai produktivitas yang tinggi.

Pemilihan Varietas

Pilihan varietas bisa menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) yang disesuaikan dengan agroekosistem tempat budidaya. Setiap varietas memiliki daya adaptasi berbeda antar egroekosistem, seperti lahan sawah, tegalan, kering, masam, dan pasang surut. Misalnya, pada perlakuan kedelai kuning yang membutuhkan tanah yang lebih subur, memerlukan pengairan, dan pemeliharaan yang lebih baik daripada kedelai hitam sehingga pemilihan lahannya bisa disesuaikan.

Persiapan Lahan dan Penanaman

Pada lahan kering, tanah sebaiknya dibajak 2 kali sedalam 30 cm, sedangkan pada lahan sawah dengan tanaman monokultur, tanah dibersihkan dari jerami, kemudian tanah diolah satu kali. Jangan lupa dibuat saluran drainase setiap 4 meter sedalam 20-25 cm dan lebar 20 cm. Pembuatan saluran drainase berfungsi untuk mencegah terjadinya penggenangan air, karena tanaman kedelai tidak tahan terhadap genangan. Kemudian penananaman dilakukan dengan jarak tanamnya 40 cm x 10 cm atau 40 cm x 15 cm dan dilarik. Setiap lubang tanam bisa diisi dua benih kedelai. Apabila semakin subur lahan, sebaiknya jarak tanam semakin lebar.

Pemupukan

Dosis pemupukan diberikan sekitar 50 kg urea, 75 kg SP36, dan 100 kg KCl per hektarnya. Pupuk diberikan sebanyak 2 kali, yaitu saat tanam dan 2 minggu setelah tanam. Jika penanaman pada lahan bekas sawah yang subur dan kadar masih pupuk tinggi, tanaman kedelai tidak perlu tambahan NPK. Agar dosis pemupukan sesuai dengan spesifik lokasi hendaknya dicek dahulu menggunakan PUTS/PUTK. Pupuk diberikan dengan cara dilarik 5-7 cm dari tanaman, kemudian ditutup tanah.

Pengairan

Pengairan penting, terutama pada fase kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan yang dimulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji. Pemberian air dilakukan mulai dari fase pertumbuhan hingga pengisian biji. Frekuensi pemberian air tergantung dari kondisi iklim dan jenis tanah. Pada jenis tanah berpasir, kedelai di airi 3-4 kali per bulan pada kondisi musim kemarau. Pada tanah yang mengandung bahan organik tinggi cukup 1-2 kali per bulan pada kondisi musim kemarau.

Penyiangan

Penyiangan bisa dilakukan saat pra maupun pasca tumbuh dengan cara pemantauan, baik secara mekanik atau manual maupun secara kimia menggunakan herbisida dengan dosis yang tepat. Penyiangan bisa dilakukan pada umur 15 dan 30 hari. Jika rumput masih banyak, maka penyiangan dilakukan lagi pada umur 55 hari.

Panen dan Pasca Panen

Waktu, cara, dan alat panen yang digunakan dalam pemanenan dapat mempengaruhi jumlah dan mutu hasil kedelai. Berikut tipsnya.

  • Panen dilakukan apabila semua daun tanaman telah rontok, polong berwarna kuning atau coklat, dan mengering.
  • Panen dimulai sekitar pukul 9 pagi saat air embun sudah hilang. Pangkal batang tanaman dipotong menggunakan sabit bergerigi atau sabit tajam.
  • Hindari pemanenan dengan cara mencabut, agar tanah tidak terbawa.
  • Hasil panenan dikumpulkan di tempat yang kering dan diberi alas.

Penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang cukup dari mulai penjemuran hasil panen, pembijian, pengeringan, pembersihan, dan penyimpanan biji. Sebab, kegiatan ini mempengaruhi kualitas biji atau benih yang dihasilkan. Kedelai sebagai bahan konsumsi bsia dipetik pada umur 75-100 hari, sedangkan untuk benih umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata. Penjemuran yang terbaik adalah penjemuran hasil panen kedelai yang diberi alas terpal.

Referensi: Publikasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian