Tips Mencegah Serangan Hama dan Penyakit pada Cabai

Tanaman cabai / budidayacabai.ptnasa.net

Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang paling banyak dibudidayakan oleh petani, baik di dataran tinggi maupun rendah. Jenis cabai yang banyak dibudidayakan seperti cabai merah besar, cabai merah keriting, dan cabai rawit. Cabai juga termasuk dalam komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi kebutuhan pangan utama masyarakat.

[Baca juga: Jenis-Jenis Hama Penting pada Cabai dan Cara Pengendaliannya]

Salah satu kendala dalam budidaya cabai adalah serangan hama dan penyakit. Serangan ini dapat menimbulkan kegagalan panen dan merugikan petani. Terdapat banyak cara untuk mengendalikan hama dan penyakit tersebut. Namun, usaha untuk mengurangi serangan dan bahkan mencegahnya merupakan tindakan yang lebih baik. Berikut beberapa langkah untuk mencegah serangan hama dan penyakit pada cabai.

Modifikasi Lingkungan

Cara pencegahan pertama adalah dengan memodifikasi lingkungan penanaman cabai. Modifikasi ini bisa dengan pengaturan pola tanam yang bertujuan untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit dengan pergiliran tanaman yang tidak berasal dari satu famili. Selanjutnya dengan pengolahan tanah yang dilakukan minimal 1 bulan sebelum penanaman agar patogen dan sisa-sisa pupa dari hama di dalam tanah akan terjemur oleh sinar matahari sehingga akan mati.

Modifikasi lingkungan juga bisa dilakukan dengan pengapuran jika tanah terlalu masam. Kemasaman tanah untuk tanaman bawang merah dan cabai merah pada pH 5,6-6,5. Jika pH tanah kurang dari kisaran angka tersebut dapat dilakukan pengapuran menggunakan dolomit atau kaptan yang dilakukan minimal 1 bulan sebelum tanam. Selanjutnya adalah dengan pemupukan. Tanaman yang kelebihan atau kekurangan unsur hara akan rentan terhadap serangan OPT.

Perlakuan Benih

Penyemaian benih sebaiknya dilakukan di dalam rumah kasa. Media pesemaian terdiri atas campuran tanah halus dan pupuk kandang (1:1) yang telah dikukus dengan uap air panas selama 4 jam. Sebelum disemai, benih cabai direndam dahulu dalam air hangat (50°C) selama 30 menit atau larutan fungisida Propamokarb Hidroklorida (1 ml/l) selama ±5 menit, lalu ditiriskan dan langsung disemai. Untuk menekan serangan kutu kebul terhadap bibit cabai dilakukan penyiraman larutan insektisida Tiametoksam (0,5 ml/l) dengan dosis 50 ml/ tanaman pada umur 2 dan 4 minggu setelah semai.

Perlakuan Tanah

Jika di lahan ditemukan uret atau orong-orong, maka lahan diberi perlakuan dengan insektisida Fipronil 0,3 G sebanyak 15 kg/ha. Di samping itu, untuk daerah endemik serangan penyakit layu bakteri dan layu fusarium, lahan bisa diberi perlakuan dengan bakterisida Oksitetrasiklin (konsentrasi formulasi 1 ml/liter) dengan dosis 200 ml/lubang tanam yang diaplikasikan satu hari sebelum tanam.

Perangkap OPT

Langkah selanjutnya adalah menggunakan perangkap OPT. Untuk menekan populasi trips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau dapat dipasang perangkap lekat warna kuning sebanyak 40-50 buah/ ha. Perangkap tersebut dipasang pada saat penanaman. Sedangkan untuk mengendalikan hama lalat buah, dipasang perangkap Metil Eugenol sebanyak 40-50 buah/ha ketika tanaman mulai berbunga.

Pemanfaatan Sumber Daya Hayati

Pencegahan hama dan penyakit juga bisa dengan memanfaatkan sumber daya hayati agar lebih ramah lingkungan. Sumber daya hayati ini berupa musuh alami. Langkah ini harus lebih diutamakan dengan menitikberatkan pada pemanfaatan musuh alami domestik dengan cara menciptakan lingkungan yang mendukung semakin berfungsinya musuh-musuh alami secara maksimal. Beberapa musuh alami penting seperti parasitoid, predator, dan cendawan entomatogen diketahui dapat menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.

Pemanfaatan Biopestisida

Lebih dari 2300 jenis tumbuhan dari berbagai penjuru dunia diketahui dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan tidak kurang dari 100 jenis tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida. Beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai biopestisida dan efektif mengendalikan hama dan penyakit cabai antara lain serai wangi, babadotan, kirinyuh, tagetes, mindi, nimbi, kipahit, kacang babi, legundi, kapayang, gamal, bintaro, dan mengkudu. Dengan pemanfaatan biopestisida ini diharapkan ekosistem lingkungan akan tetap seimbang dan terjaga.

Referensi: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian