Inovasi Teknologi Terbaru untuk Meningkatkan Produktivitas Padi

Penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying / bettergrain.co.uk

Padi merupakan komoditas strategi dan seakan menjadi tanaman paling penting untuk rakyat Indonesia. Beras yang merupakan produk dari tanaman padi menjadi bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Kebutuhan akan beras terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk nasional.

[Baca juga: Menuju Ketahanan Pangan Melalui Pengembangan Padi Hibrida]

Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi, mulai dari jenis intensitifikasi lahan sampai dengan ekstensifikasinya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, peran teknologi juga semakin penting dalam peningkatan produktivitas tanaman. Berikut adalah beberapa inovasi teknologi terbaru untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi.

SMARt

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanah (Balittanah) berhasil menghasilkan teknologi terbaru, yaitu SMARt yang berbentuk pupuk hayati tanaman padi. SMARt merupakan formula pupuk hayati untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, produktivitas, dan ketahanan tanaman padi terhadap penyakit. Formula pupuk hayati ini merupakan konsorsia mikroba selektif yang unggul sebagai penambat N, pelarut fosfat, dan penghasil hormon.

Pupuk hayati sendiri memiliki beragam fungsi yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman padi, di antaranya sebagai penyedia hara, meningkatkan ketersediaan hara, pengontrol mikroorganisme pengganggu tanaman, pengurai bahan organik dan pembentuk humus, pemantap agregat tanah dan perombak senyawa agrokimia. Namun, ternyata SMARt masih memiliki keunggulan lain, di antaranya ramah lingkungan karena menggunakan mikroba tropik, mampu meningkatkan produktivitas padi, dan menekan jumlah penggunaan pupuk dan insektisida ±50%. Ditinjau dari keunggulannya, SMARt potensial dikembangkan secara komersial oleh industri sarana produksi pertanian untuk mengganti pupuk anorganik dan insektisida pada tanaman padi.

AWD (Alternate Wetting and Drying)

AWD merupakan teknologi untuk menghemat air yang dapat diterapkan petani untuk mengurangi penggunaan air irigasi di lahan sawah. Penerapan AWD  dapat meningkatkan produksi padi selain menurunkan emisi atau pelepasan gas rumah kaca (GRK). Teknologi ini awal mula dikembangkan oleh IRRI (International Rice Research institute) pada tahun 2009 di Philipina. Teknologi ini muncul karena petani dinilai kerap mengairi sawah mereka dengan cara menggenangi secara terus menerus. Cara tersebut selain boros air, juga berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca.

Pengujian terhadap AWD di Indonesia telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui peneliti di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) bekerjasama dengan National Agriculture and food Research Organization (NARO) pada tahun 2013-2016 selama 6 musim tanam. Hasil pengujian yang dilakukannya manyatakan bahwa kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan bahkan dapat dihindari, salah satunya dengan menerapkan teknologi AWD. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan air irigasi sebesar 17 – 20%, dan menekan emisi gas rumah kaca antara 35-38%. Selain itu, teknologi ini juga dapat meningkatkan produksi hingga 1 ton/ha dibandingkan dengan pengairan terus menerus.

Dalam pengaplikasian AWD, penentuan waktu dan frekuensi pergantian pembasahan dan pengeringan bergantung pada tahap pertumbuhan padi, cuaca dan kondisi lahan sawah yang disesuaikan oleh sistem budidaya padi yang digunakan.

Mesin Pascapanen

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) berhasil mengeluarkan 3 paket mesin pengolahan benih padi mendukung UPBS (Unit Pengelola Benih Sumber) yang masing-masing terdiri dari mesin pembersih (sortasi), mesin penimbang, dan mesin pengemas. Selain itu, untuk penakar benih yang bermasalah dengan lantai jemur, akan dilengkapi dengan mesin pengering padi tipe sirkulasi.

Hasil pengujian paket mesin pascapanen benih menunjukkan bahwa masing-masing alat dan mesin sudah dapat berfungsi dan beroperasi dengan baik. Mesin pembersih memiliki kapasitas antara 400–500 kg/jam (tergantung laju pengumpanan gabah dan tingkat kebersihan gabah awal). Mesin penimbang memiliki kapasitas sebesar 540 kg/jam atau 108 kemasan/jam. Tingkat akurasi hasil timbangan sebesar 99,57%.Kapasitas alat pengemas benih padi sebesar 613 kg/jam atau 122 kemasan/jam tergantung keterampilan operator.  Sedangkan mesin pengering tipe sirkulasi memiliki kapasitas muat 3,0 – 3,5 ton/proses, dengan lama pengeringan 16,5 jam pada suhu udara pengering 51,7ºC.

Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa besarnya biaya operasional untuk mesin pembersih, penimbang, pengemas, dan pengering berturut-turut adalah Rp.59/kg, Rp. 29/kg, Rp. 14/kg, dan Rp.108/kg atau dapat dikatakan penggunaan alat mesin pascapanen benih ini padi dapat memberikan keuntungan, dengan nilai B/C ratio masing-masing mesin antara 1,4 – 1,5 dengan nilai BEP antara 0,5 – 0,6 tahun. Untuk penggunaan mesin pengering nilai B/C ratio dan BEP masing-masing adalah 1,2 dan 2,0 tahun, artinya cukup layak.