Transplantasi Karang sebagai Alternatif Pelestarian Terumbu Karang

Terumbu karang adalah suatu ekosistem yang dibentuk dari endapan padat kalsium karbonat (CaCO3), yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (calcareous algae) dan organisme lainnya yang menyekresikan kalsium karbonat (Nybakken, 1992). Terumbu karang merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia dan tidak ternilai harganya.

[Baca juga: Biorock, Solusi Terbaik Selamatkan Terumbu Karang]

Terumbu karang memiliki peran sebagai pelindung pantai dari angin, pasang surut, arus dan badai, sumber plasma nutfah serta keanekaragaman hayati. Keberadaan terumbu karang diperlukan bagi industri pangan, bioteknologi, kesehatan, tempat hidup ikan-ikan, baik ikan hias maupun ikan target, yaitu ikan-ikan yang tinggal di terumbu karang. Selain itu, terumbu karang juga sebagai tempat perlindungan bagi organisme laut; penghasil bahan-bahan organik sehingga memiliki produktivitas organik yang sangat tinggi dan menjadi tempat mencari makan, tempat tinggal, dan penyamaran bagi komunitas ikan. Oleh sebab itu terumbu karang perlu dilestarikan agar memberikan manfaat yang maksimal pada kehidupan.

Ekosistem Terumbu Karang

Pertumbuhan karang dan penyebarannya tergantung pada kondisi lingkungannya, yang pada kenyataannya tidak selalu tetap karena adanya gangguan yang berasal dari alam atau aktivitas manusia. Terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, dengan suhu perairan yang hangat, gerakan gelombang besar dan sirkulasi air yang lancar serta terhindar proses sedimentasi. Faktor-faktor fisik lingkungan yang berperan dalam perkembangan terumbu karang adalah (1) suhu optimal berkisar 25-29º C, dengan suhu maksimal yang masih dapat ditoleransi berkisar antara 36ºC dan suhu minimal 16-17ºC. (2) Kedalaman perairan < 50 m, dengan kedalaman bagi perkembangan optimal pada 25 m atau kurang. (3) Salinitas air yang konstan berkisar antara 30-36 ‰. (4) Perairan yang cerah, bergelombang besar dan bebas dari sedimen (Wells, 1954).

Ekosistem terumbu karang saat ini tengah terancam oleh berbagai penyebab baik secara alami atau proses alam maupun akibat dampak dari aktivitas manusia. Berbagai aktivitas manusia baik langsung maupun tak langsung yang dapat mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang, antara lain seperti penangkapan dengan menggunakan bom. Kerusakan terumbu karang akibat kejadian alami bisa berasal dari gempa bumi, tsunami, angin topan/ badai, pemanasan global (bleaching), predator (Acanthaster planci,  Drupella), asidifikasi, keterbukaan akibat surut laut, dan terik matahari yang lebih lama serta penyakit.

Pelestarian Terumbu Karang

Proses perbaikan secara alami pada terumbu karang membutuhkan waktu yang relatif lama. Telah banyak diketahui upaya pelestarian terumbu karang, salah satunya adalah metode transplantasi karang. Transplantasi karang adalah upaya pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam ditempat lain atau ditempat yang karangnya telah rusak sebagai upaya rehabilitasi (Yap, 2003). Transplantasi karang merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk merehabilitasi kerusakan di kawasan terumbu karang.

Tujuan penting transplantasi karang ini adalah mempercepat penutupan karang hidup meningkatkan keanekaragaman, mempercepat proses rekruitmen larva karang dengan tersedianya induk karang dari proses transplantasi, gudang plasma nutfah bagi karang yang terancam punah, dan perbaikan karang di daerah yang memiliki tingkat rekruitmen yang rendah. Tahapan dari transplantasi karang adalah persiapan transplantasi karang, pelaksanaan transplantasi karang, pemeliharaan dan perawatan karang dan pemanenan karang, serta perlu diperhatikan pula aspek lingkungan dalam transplantasi karang.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Rizka Fauziana