Trik Meningkatkan Kualitas Hasil Pegomposan

Kompos / Pixabay

Artikel sebelumnya sudah dijelaskan bagaimana membuat lahan pertanian lebih produktif. Langkah yang dilakukan salah satunya adalah dengan pemberian pupuk organik. Kali ini akan diulas bagaimana trik membuat salah satu jenis pupuk organik, yaitu kompos. Kompos merupakan hasil perombakan bahan organik oleh mikrobia dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang rendah. Kompos bisa dibilang sangat mudah untuk dibuat. Kompos berasal dari sampah organik yang bisa berupa sisa-sisa tumbuhan, sayuran, dan juga bisa dicampuran  dengan kotoran hewan. Kompos bisa dibuat dengan berbagai macam cara. Namun dalam pembuatannya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut untuk meningkatkan kualitasnya.

  1. Selalu mulai tumpukan kompos baru dengan lapisan halus tanah di bagian bawah dengan ketebalan 15-20 cm untuk menyerap kelembaban dari tumpukan dan menjaga aerasi pada tempat pengomposan agar oksigen tetap tersedia, sehingga kondisi tempat tidak terlalu septik.
  2. Periksa daftar dari rasio karbon dan nitrogen untuk berbagai bahan kompos yang digunakan. Hal ini berguna untuk mengetahui berapa banyak komposisi masing-masing bahan untuk memasukkan ke dalam tumpukan. Kandungan tersebut sangat penting untuk menghasilkan kualitas kompos yang didapatkan.
  3. Selalu menambahkan sumber nitrogen tambahan seperti pupuk kandang atau sampah dapur dengan takaran yang tidak terlalu banyak, sehingga kandungan kompos bisa seimbang antara nitrogen dan karbonnya.
  4. Menjaga kelembaban kompos. Usahakan selama proses pengomposan bahan yang tercampur tidak terlalu basah ataupun kering. Bisa dilkakukan dengan membuat kompos tidak di tempat yang terkena sinar matahari secara langsung dan mengusahakan bahan mendapat air dari lingkungan sekitar yang tidak terlalu banyak. Hal ini dilakukan agar rasio nitrogen yang umumnya di bahan yang lembab dan karbon di bahan yang kering berada pada posisi yang seimbang dan tepat.
  5. Mengetahui kematangan kompos. Pada umumnya kompos akan matang jika sudah tidak mengeluarkan bau menyengat, warna coklat kehitaman, dan memiliki pH yang mendekati netral.
  6. Menambah aktivator. Pada umumnya dengan penambahan EM4 untuk mempercepat proses komposting.
  7. Mengaduk campuran secara rutin. Pengadukan bisa dilakukan 3 hari sekali yang bertujuan agar bahan-bahan homogen dan tercampur dengan sempurna.

Langkah-langkah di atas perlu lebih diperhatikan dalam pembuatan kompos. Hampir semua orang masih kurang memperhatikan kualitas kompos yang dihasilkan. Padahal kualitas kompos yang digunakan akan menentukan kesuburan lahan dan mempengaruhi hasil produk yang didapatkan.

Banyak ahli yang meneliti kandungan apa saja yang harus terdapat pada kompos dan seberapa besar rasio atau komposisinya. Pada intinya harus diketahui terlebih dahulu unsur apa yang lebih dibutuhkan di lahan untuk menunjuang kegiatan budidayanya. Pembuatan kompos bisa dilakukan dengan melihat hal tersebut. Misalkan pada lahan pertanian kekurangan unsur N maka dapat dibuat kompos dengan kandungan unsur N yang lebih banyak.

Kompos dinilai lebih ramah lingkungan dibanding pupuk yang lain. Selain karena terbuat dari bahan organik kompos pada dasarnya dibuat dengan meningkatkan aktivitas mikrobia tanah yang ada sehingga tidak akan memberikan efek samping yang signifikan pada tanah. Keunggulan penggunaan kompos sendiri sangat banyak, seperti tetap menjaga dan bahkan memperbaik struktur tanah. Kompos aman diberikan dalam jumlah yang besar dan berlebihan sekalipun. Dengan pemberian kompos kualitas tanah akan meningkat, terutama sifat biologis tanah seperti keberadaan organisme tanah yang bermanfaat bagi tanah itu sendiri.