Usaha Tambak Kakap Putih Beserta Tahapan dan Spesifikasinya

Budidaya Tambak Kakap / Flickr

Usaha tambak di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh pengusaha, terutama tambak dengan komoditas nilai jual tinggi seperti udang dan ikan kerapu. Tidak hanya jenis-jenis tersebut, kakap putih juga termasuk salah satunya. Tambak kakap putih sudah dilakukan sejak lama di Indonesia terutama saat ikan ini memiliki nilai jual tinggi di pasaran hingga sekarang. Kakap putih dapat hidup di tambak dengan salinitas air tinggi >20 ppt maupun salinitas air rendah <5 ppt.

[Baca juga: Penyebab Bau Pada Kolam Lele dan Cara Mengatasinya]

Sistem tambak dan keramba jaring apung kakap putih memiliki perbedaan hanya dalam spesifikasi dan konstruksinya, namun pada tahap pemeliharaan dan pembesaran ikan tersebut kurang lebih sama. Dalam usaha tambak, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah lokasi tambak. Berikut faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi tambak :

  1. Tambak dibangun di perairan pantai dengan pasang surut 1,5 – 2,5 meter.
  2. Sumber air memenuhi syarat kehidupan ikan yang akan dibudidaya
  3. Lokasi mudah dijangkau
  4. Lokasi aman dari gangguan

Spesifikasi Tambak

Dalam usaha tambak harus memperhatikan spesifikasi tambak yang tepat untuk budidaya kakap putih. Berikut spesifikasi yang harus terpenuhi untuk membangun tambak kakap putih :

  1. Pematang tambak dapat berupa pematang tanah atau pematang beton.
  2. Saluran tambak dapat dibuat dari beton, tanah atau pipa PVC. Tambak yang baik memiliki saluran air inlet (masuk) dan outlet (keluar) yang berbeda.
  3. Pintu tambak dapat dibuat dari beton, kayu, atau pipa PVC. Pintu harus dirancang dengan kemampuan memasukkan dan mengeluarkan air sesuai kebutuhan.
  4. Ukuran petak tambak yang dikelola secara intensif tidak lebih dari 1 ha agar pengelolaannya lebih mudah. Ukuran ideal tambak adalah 0,5 ha.

Tahapan Persiapan Tambak

Pengeringan dan pengelolaan tanah

Pengeringan dan pengelolaan tanah selama 4-7 hari tambah berguna untuk memperbaiki kondisi dasar tambak, diantaranya:

  1. Aerasi sedimen permukaan untuk pengoksidasian senyawa-senyawa tereduksi seperti amonia, nitrit, methan, dan senyawa toksik lainnya.
  2. Dekomposisi dan mineralisasi bahan organik dan mikroorganisme tanah.
  3. Reduksi BOD (Biochemical Oxygen Demand).
  4. Desinfeksi dasar tambak dari organisme pathogen seperti bakteri, jamur, virus, atau protozoa dengan penyinaran matahari secara langsung.
  5. Penghilangan lapisan filamentous algae yang tidak diinginkan.
Pengapuran

Fungsi kapur dalam pengapuran tambak adalah untuk memperbaiki pH tanah yang pada umumya terlalu asam (rendah). Selain itu kapur juga dapat berfungsi sebagai desinfektan untuk membunuh kuman – kuman dasar tambak. Pengapuran dilakukan setelah lumpur organik diangkat serta sebelum dan sesudah tanah dibajak, ketika tanah agak basah tetapi tidak kering. Dosis kapur yang diberikan harus disesuaikan dengan pH tanah. Kapur yang digunakan dalam pengapuran tambah ini yaitu CaCO3, CaO atau Ca(OH)2.

Pemupukan

Pemupukan pada saat persiapan tambak diperlukan untuk memberikan sumber nutrient yang kemudian akan merangsang pertumbuhan fitoplankton. Pupuk yang diberikan ditujukan untuk memasok unsur hara yang sangat diperlukan seperti nitrogen, fosfor, dan kalium untuk pertumbuhan fitoplankton yaitu sebagai produsen oksigen terlarut dalam air dan sebagai pakan alami organisme air.

Secara garis besar pupuk yang digunakan dalam usaha budidaya ikan terbagi atas kelompok pupuk organik, seperti dari tumbuhan yang membusuk, kotoran hewan, sampah organik rumah tangga. Sedangkan pupuk anorganik seperti Urea, TSP, KCI, dan NPK. Namun pada tambak kakap putih selama pemeliharaan, penggunaan pupuk organik tidak dianjurkan, jika diperlukan pemupukan selama persiapan tambak dilakukan pencampuran antara pupuk organik dan anorganik. Pada pemupukan tambak kakap putih awalnya dapat dilakukan dengan menaburkan pupuk TSP 75 kg/hektar dan urea 150 kg/hektar.