Varietas Padi yang Tahan Tungro dan Wereng Cokelat

Tanaman padi / Pixabay

Padi menjadi komoditas tanaman pangan utama di Indonesia. Tuntutan peningkatan produktivitas dan produksi seiring dengan peningkatan kebutuhan akan bahan pangan diupayakan dijawab melalui penerapan teknologi budidaya. Mulai dari pembenihan, pemupukan dan sampai pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

[Baca juga: Pentingnya Pengaturan Jarak Tanam dan Pengairan pada Budidaya Padi]

Pengendalian OPT secara berkelanjutan yang terintegrasi dalam Pengendalian tanaman terpadu (PTT) memprioritaskan pada pengelolaan agroekosistem yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan varietas unggul tahan OPT, penerapan kultur teknis yang dapat mempengaruhi dinamika populasi OPT, pengunaan bahan nabati dan agens hayati, serta penggunaan bahan kimia secara wajar dan tidak melebelihi batas wajar sebagai alternatif terakhir menjadi komponen-komponen yang sinergis yang dikelola pada ekosistem padi sawah spesifik lokasi.

Penyakit tungro merupakan salah satu penyakit penting pada padi. Gejala yang muncul pada rumpun tanaman tampak kerdil (pertumbuhan terhambat/memendek), daun muda menguning hingga oranye apabila telah parah, daun bergejala agak terpuntir, anakan berkurang, pada hamparan tampak pertumbuhan padi bergelombang dengan spot-spot gejala menguning.Tanaman bergejala umumnya pada masa vegetatif (4-6 minggu setelah tanam), disebabkan penularan penyakit tungro yang dapat terjadi sejak dipersemaian.

Hama wereng batang cokelat telah mengancam produksi padi di berbagai negara di dunia sejak tahun 1970an. Tanpa pengendalian, hama yang berbahaya ini dapat menggagalkan panen padi. Pengendalian dengan insektisida terbukti merusak lingkungan dan memicu ledakan serangan. Penyebab berkembangnya hama wereng cokelat antara lain perubahan biotipe dan penanaman varietas rentan. Varietas unggul yang semula dinyatakan tahan hama wereng cokelat, beberapa musim kemudian berubah tingkat ketahanannya, sehingga perlu diganti dengan varietas unggul baru yang bereaksi tahan.

Penentuan pilihan varietas yang tepat merupakan langkah preventif/pencegahan terhadap fenomena kejadian serangan OPT. Demikian juga upaya pengendalian terhadap penularan penyakit tungro. Penggunaan varietas tahan tungro di lapangan adalah upaya pertahanan secara genetis (kemampuan dari dalam tanaman) untuk  melindungi dari serangan penularan virus tungro. Varietas tahan mampu mengurangi kejadian penularan tungro di lapangan sehingga tingkat persentase gejala yang ditimbulkan rendah.

Ada beberapa varietas padi tahan tungro, yaitu: Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, Inpari 36, dan Inpari 37. Selanjutnya ada varietas padi tahan tungro sebelumnya yaitu: Tukad Petanu, Tukad Balian, Tukad Unda, Kalimas, dan Bondoyudo. Selain itu ada beberapa varietas unggul baru padi tahan wereng cokelat, yaitu: Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, dan Inpari 35 Salin Agritan. Varietas-varietas tersebut secara efektif mampu mengendalian dengan pertimbangan kesesuaian varietas pada daerah endemis tungro. Artinya, ada varietas-varietas tertentu yang secara khusus/spesifik lokasi sesuai dengan daerah tertentu.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan